As@Fatur

Paper Agama Islam

Posted on: 20 April 2009

AGAMA ISLAM DAN SELUK BELUKNYA

  1. Pengertian Agama Islam
    1. Bahasa

      Dari segi kebahasaan, Islam berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian. Oleh sebab itu orang yang berserah diri, patuh, dan taat kepada Allah swt. disebut sebagai orang Muslim. Dari uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa kata Islam dari segi kebahasaan mengandung arti “patuh, tunduk, taat, dan berserah diri kepada Allah swt dalam upaya mencari keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat”. Hal itu dilakukan atas kesadaran dan kemauan diri sendiri, bukan paksaan atau berpura-puraan, melainkan sebagai panggilan dari fitrah dirinya sebagai makhluk yang sejak dalam kandungan telah menyatakan patuh dan tunduk kepada Allah.

    2. Istilah

      Adapun pengertian Islam dari segi istilah, banyak para ahli yang mendefinisikannya; di antaranya Prof. Dr. Harun Nasution. Ia mengatakan bahwa Islam menurut istilah (Islam sebagai agama) adalah “agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad saw sebagai Rasul”. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenal satu segi, tetapi mengenal berbagai segi dari kehidupan manusia.

      Sementara itu Maulana Muhammad Ali mengatakan bahwa Islam adalah agama perdamaian; dan dua ajaran pokoknya, yaitu keesaan Allah dan kesatuan atau persaudaraan umat manusia menjadi bukti nyata bahwa agama Islam selaras benar dengan namanya. Islam bukan saja dikatakan sebagai agama seluruh Nabi Allah, sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an, melainkan pula pada segala sesuatu yang secara tak sadar tunduk sepenuhnya pada undang-undang Allah.

      Di kalangan masyarakat Barat, Islam sering diidentikkan dengan istilah Muhammadanism dan Muhammedan. Peristilahan ini timbul karena pada umumnya agama di luar Islam namanya disandarkan pada nama pendirinya. Di Persia misalnya ada agama Zoroaster. Agama ini disandarkan pada nama pendirinya, Zarathustra (W.583 SM). Agama lainnya, misalnya agama Budha, agama ini dinisbahkan kepada tokoh pendirinya, Sidharta Gautama Budha (lahir 560 SM). Demikian pula nama agama Yahudi yang disandarkan pada orang-orang Yahudi (Jews) yang berasal dari negara Juda (Judea) atau Yahuda.

      Penyebutan istilah Muhammadanism dan Muhammedan untuk agama Islam, bukan saja tidak tepat, akan tetapi secara prinsip hal itu merupakan kesalahan besar. Istilah tersebut bisa mengandung arti bahwa Islam adalah paham Muhammad atau pemujaan terhadap Muhammad, sebagaimana perkataan agama Budha yang mengandung arti agama yang dibangun oleh Sidharta Gautama Budha atau paham yang berasal dari Sidharta Gautama. Analogi nama dengan agama-agama lainnya tidaklah mungkin bagi Islam.

      Berdasarkan keterangan tersebut, Islam menurut istilah mengacu kepada agama yang bersumber pada wahyu yang datang dari Allah swt, bukan berasal dari manusia/Nabi Muhammad saw. Posisi Nabi dalam agama Islam diakui sebagai orang yang ditugasi Allah untuk menyebarkan ajaran Islam tersebut kepada umat manusia. Dalam proses penyebaran agama Islam, nabi terlibat dalam memberi keterangan, penjelasan, uraian, dan tata cara ibadahnya. Keterlibatan nabi ini pun berada dalam bimbingan wahyu Allah swt.

      Dengan demikian, secara istilah, Islam adalah nama agama yang berasal dari Allah swt. Nama Islam tersebut memiliki perbedaan yang luar biasa dengan nama agama lainnya. Kata Islam tidak mempunyai hubungan dengan orang tertentu, golongan tertentu, atau negeri tertentu. Kata Islam adalah nama yang diberikan oleh Allah swt. Hal itu dapat dipahami dari petunjuk ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan Allah swt. Selanjutnya, dilihat dari segi misi ajarannya, Islam adalah agama sepanjang sejarah manusia. Agama dari seluruh Nabi dan Rasul yang pernah diutus oleh Allah swt. pada berbagai kelompok manusia dan berbagai bangsa yang ada di dunia ini. Islam adalah agama Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Yakub, Nabi Musa, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Isa, Nabi Muhammad saw. Dengan kata lain, seluruh Nabi dan Rasul beragama Islam dan mengemban risalah menyampaikan Islam. Hal itu dapat dipahami dari ayat-ayat yang terdapat di dalam Al Qur’an yang menegaskan bahwa para Nabi tersebut termasuk orang yang berserah diri kepada Allah.

      Kesimpulannya, Islam secara bahasa berarti tunduk, patuh, dan damai. Sedangkan menurut istilah, Islam adalah nama agama yang diturunkan Allah untuk membimbing manusia ke jalan yang benar dan sesuai fitrah kemanusiaan. Islam diturunkan bukan kepada Nabi Muhammad saja, tapi diturunkan pula kepada seluruh nabi dan rasul. Sesungguhnya seluruh nabi dan rasul mengajarkan Islam kepada umatnya.

      Islam sebagai sebuah nama dari nama agama tidak diberikan oleh para pemeluknya melainkan kata “Islam” pada kenyataannya dicantumkan dalam Quran, yaitu:

      1.      “Wa radhitu lakum al-Islama dinan” artinya “Dan Allah mengakui bagimu Islam sebagai Agama”

      2. Inna’ ddina inda ilahi al Islam” artinya “Sesungguhnya agama disisi Allah adalah Islam”.

  2. Sumber-Sumber Ajaran Islam

Sumber ajaran Islam dirumuskan dengan jelas dalam percakapan Nabi Muhammad dengan sahabat beliau Mu’az bin Jabal, yakni terdiri dari tiga sumber yaitu al-Qur’an (kitabullah), as-Sunnah (kini dihimpun dalam hadis), dan ra’yu atau akal pikiran manusia yang memenuhi syarat untuk berijtihad.

Ketiga sumber ajaran ini merupakan satu rangkaian kesatuan dengan urutan yang tidak boleh dibalik.

  1. AL QUR’AN

    Secara etimologis, al-Qur’an berasal dari kata qara’a, yaqra’u, qiraa’atan atau qur’aanan yang berarti mengumpulkan (al-jam’u) dan menghimpun (al-dlammu). Huruf-huruf serta kata-kata dari satu bagian kebagian lain secara teratur dikatakan al-Qur’an karena ia berisikan intisari dari semua kitabullah dan intisari dari ilmu pengetahuan. Allah berfirman :

    Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (dalam dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kamu telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya”. (alQiyamah [75]:17-18).

    Sedangkan menurut para ulama klasik, al-Qur’an didefinisikan sebagai berikut:

    Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan pada Rasulullah dengan bahasa Arab, merupakan mu’jizat dan diriwayatkan secara mutawatir serta membacanya adalah ibadah.

    Adapun pokok-pokok kandungan dalam al-Qur’an antara lain:

    1. Tauhid, yaitu kepercayaan terhadap ke-Esaan Allah dan semua kepercayaan yang berhubungan dengan-Nya.
    2. Ibadah, yaitu semua bentuk perbuatan sebagai manifestasi dari kepercayaan ajaran tauhid.
    3. Janji dan ancaman (al wa’d wal wa’iid), yaitu janji pahala bagi orang yang percaya dan mau mengamalkan isi al-Qur’an dan ancaman siksa bagi orang yang mengingkarinya.
    4. Kisah umat terdahulu, seperti para Nabi dan Rasul dalam menyiarkan risalah Allah maupun kisah orang-orang shaleh ataupun orang yang mengingkari kebenaran al-Qur’an agar dapat dijadikan pembelajaran bagi umat setelahnya.

Al-Quran mengandung tiga komponen dasar hukum, sebagai berikut:

  • Hukum I’tiqadiah, yakni hukum yang mengatur hubungan rohaniah manusia dengan Allah SWT dan hal-hal yang berkaitan dengan akidah/keimanan. Hukum ini tercermin dalam Rukun Iman. Ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Tauhid, Ilmu Ushuluddin, atau Ilmu Kalam.
  • Hukum Amaliah, yakni hukum yang mengatur secara lahiriah hubungan manusia dengan Allah SWT, antara manusia dengan sesama manusia, serta manusia dengan lingkungan sekitar. Hukum amaliah ini tercermin dalam Rukun Islam dan disebut hukum syara/syariat. Adapun ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Fikih.
  • Hukum Khuluqiah, yakni hukum yang berkaitan dengan perilaku normal manusia dalam kehidupan, baik sebagai makhluk individual atau makhluk sosial. Hukum ini tercermin dalam konsep Ihsan. Adapun ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Akhlaq atau Tasawuf.

Sedangakan khusus hukum syara dapat dibagi menjadi dua kelompok, yakni:

  • Hukum ibadah, yaitu hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, misalnya salat, puasa, zakat, haji, dank urban.
  • Hukum muamalat, yaitu hukum yang mengatur manusia dengan sesama manusia dan alam sekitarnya. Termasuk ke dalam hukum muamalat adalah sebagai berikut:
    • Hukum munakahat (pernikahan).
    • Hukum faraid (waris).
    • Hukum jinayat (pidana).
    • Hukum hudud (hukuman).
    • Hukum jual-beli dan perjanjian.
    • Hukum al-khilafah (tata Negara/kepemerintahan).
    • Hukum makanan dan penyembelihan.
    • Hukum aqdiyah (pengadilan).
    • Hukum jihad (peperangan).
    • Hukum dauliyah (antarbangsa).
  1. AS-SUNNAH ATAU HADIS

    Sunnah menurut istilah syar’i adalah sesuatu yang berasal dari Rasulullah Saw. baik berupa perkataan, perbuatan, dan penetapan pengakuan. Sunnah berfungsi sebagai penjelas ayat-ayat al-Qur’an yang kurang jelas atau sebagai penentu beberapa hukum yang tidak terdapat dalam al-Qur’an.

    As-Sunnah dibagi menjadi empat macam, yakni:

    1. Sunnah Qauliyah, yaitu semua perkataan Rasulullah
    2. Sunnah Fi’liyah, yaitu semua perbuatan Rasulullah
    3. Sunnah Taqririyah, yaitu penetapan dan pengakuan Nabi terhadap pernyataan ataupun perbuatan orang lain
    4. Sunnah Hammiyah, yakni sesuatu yang telah direncanakan akan dikerjakan tapi tidak sampai dikerjakan.

    Ada beberapa ahli hadis yang mengatakan bahwa istilah hadis dipergunakan khusus untuk sunnah qauliyah (perkataan Nabi), sedangkan sunnah fi’liyah (perbuatan) dan sunnah taqririyah tidak disebut hadis, tetapi sunnah saja.

  2. SUMBER PELENGKAP AR-RA’YU

    Secara garis besar ayat-ayat al-Qur’an dibedakan atas ayat muhkamat dan ayat mutasyabihat. Ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang sudah jelas dan terang maksudnya dan hukum yang dikandungnya tidak memerlukan penafsiran. Pada umumnya bersifat perintah, seperti penegakkan shalat, puasa, zakat dan haji.

    Sedangkan ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang memerlukan penafsiran lebih lanjut walaupun dalam bunyinya sudah jelas mempunyai arti, seperti ayat mengenai gejala alam yang terjadi setiap hari. Adanya ayat mutasyabihat mengisyaratkan manusia untuk mempergunakan akalnya dengan benar serta berpikir mengenai ketetapan hukum peristiwa tertentu yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam al-Qur’an maupun Sunnah Rasulullah.

    Ijtihad berasal dari kata ijtihada yang berarti mencurahkan tenaga dan pikiran atau bekerja semaksimal mungkin. Sedangkan Ijtihad sendiri berarti mencurahkan segala kemampuan berpikir untuk mengeluarkan hukum syar’i dari dalil-dalil syarak, yaitu Al Quran dan Hadist. Orang yang menetapkan hukum dengan jalan ini disebut mujtahid. Hasil dari ijtihad merupakan sumber hukum Islam yang ketiga setelah Al Quran dan Hadist.

    Walaupun Islam adalah agama yang berdasarkan wahyu dari Allah SWT, Islam sangat menghargai akal. Hal ini terbukti dengan banyaknya ayat Al Quran yang memerintahkan manusia untuk menggunakan akal pikirannya, seperti pada surat An Nahl ayat 67 “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkannya”. Oleh karena itu, apabila ada suatu masalah yang hukumnya tidak terdapat di Al Quran maupun Hadist, maka diperintahkan untuk berijtihad dengan menggunakan akal pikiran dengan tetap mengacu kepada Al Quran dan Hadist.

    Adapun macam-macam bentuk ijtihad yang dikenal dalam syariat Islam, yaitu:

    1. Ijma’, menurut bahasa artinya sepakat, setuju, atau sependapat. Sedangkan menurut istilah adalah kebulatan pendapat ahli ijtihad umat Nabi Muhammad SAW sesudah beliau wafat pada suatu masa, tentang hukum suatu perkara dengan cara musyawarah. Hasil dari Ijma’ adalah fatwa, yaitu keputusan bersama para ulama dan ahli agama yang berwenang untuk diikuti seluruh umat.
    2. Qiyas yang berarti mengukur sesuatu dengan yang lain dan menyamakannya. Dengan kata lain Qiyas dapat diartikan pula sebagai suatu upaya untuk membandingkan suatu perkara dengan perkara lain yang mempunyai pokok masalah atau sebab akibat yang sama. Contohnya adalah pada surat Al isra ayat 23 dikatakan bahwa perkataan ‘ah’, ‘cis’, atau ‘hus’ kepada orang tua tidak diperbolehkan karena dianggap meremehkan atau menghina, apalagi sampai memukul karena sama-sama menyakiti hati orang tua.
    3. Istihsan yang berarti suatu proses perpindahan dari suatu Qiyas kepada Qiyas lainnya yang lebih kuat atau mengganti argumen dengan fakta yang dapat diterima untuk mencegah kemudharatan atau dapat diartikan pula menetapkan hukum suatu perkara yang menurut logika dapat dibenarkan. Contohnya, menurut aturan syarak, kita dilarang mengadakan jual beli yang barangnya belum ada saat terjadi akad. Akan tetapi menurut Istihsan, syarak memberikan rukhsah (kemudahan atau keringanan) bahwa jual beli diperbolehkan dengan system pembayaran di awal, sedangkan barangnya dikirim kemudian.
    4. Mushalat Murshalah, menurut bahasa berarti kesejahteraan umum. Adapum menurut istilah adalah perkara-perkara yang perlu dilakukan demi kemaslahatan manusia. Contohnya, dalam Al Quran maupun Hadist tidak terdapat dalil yang memerintahkan untuk membukukan ayat-ayat Al Quran. Akan tetapi, hal ini dilakukan oleh umat Islam demi kemaslahatan umat.
    5. Sududz Dzariah, menurut bahasa berarti menutup jalan, sedangkan menurut istilah adalah tindakan memutuskan suatu yang mubah menjadi makruh atau haram demi kepentingan umat. Contohnya adalah adanya larangan meminum minuman keras walaupun hanya seteguk, padahal minum seteguk tidak memabukan. Larangan seperti ini untuk menjaga agar jangan sampai orang tersebut minum banyak  hingga mabuk bahkan menjadi kebiasaan.
    6. Istishab yang berarti melanjutkan berlakunya hukum yang telah ada dan telah ditetapkan di masa lalu hingga ada dalil yang mengubah kedudukan hukum tersebut. Contohnya, seseorang yang ragu-ragu apakah ia sudah berwudhu atau belum. Di saat seperti ini, ia harus berpegang atau yakin kepada keadaan  sebelum berwudhu sehingga ia harus berwudhu kembali karena shalat tidak sah bila tidak berwudhu.
    7. Urf. berupa perbuatan yang dilakukan terus-menerus (adat), baik berupa perkataan maupun perbuatan. Contohnya dalah dalam hal jual beli. Si pembeli menyerahkan uang sebagai pembayaran atas barang yang telah diambilnya tanpa mengadakan ijab kabul karena harga telah dimaklumi bersama antara penjual dan pembeli.

Ijtihad mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam dan merupakan sumber hukum Islam yang ketiga setelah Al Quran dan Hadist. Dengan ijtihad itu umat Islam menyelesaikan persoalan-persoalan yang hukumnya tidak ada dalam Al Quran maupun Hadist. Setelah Rasulullah wafat, tidak ada lagi sosok yang dapat ditanya secara langsung tentang masalah-masalah Islam. Oleh karena itu, ijtihad dijadikan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan tetap mengacu pada Al Quran dan Hadist.

  1. Kerangka Dasar Agama Islam

Dalam syariat Islam terdiri dua pangkal utama. Pertama : Aqidah yaitu keyakinan pada rukun iman itu, letaknya di hati dan tidak ada kaitannya dengan cara-cara perbuatan (ibadah). Bagian ini disebut pokok atau asas. Kedua : Perbuatan yaitu cara-cara amal atau ibadah seperti sholat, puasa, zakat, dan seluruh bentuk ibadah disebut sebagai cabang. Nilai perbuatan ini baik buruknya atau diterima atau tidaknya bergantung yang pertama. Makanya syarat diterimanya ibadah itu ada dua, pertama : Ikhlas karena Allah SWT yaitu berdasarkan aqidah islamiyah yang benar. Kedua : Mengerjakan ibadahnya sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW. Ini disebut amal sholeh. Ibadah yang memenuhi satu syarat saja, umpamanya ikhlas saja tidak mengikuti petunjuk Rasulullah SAW tertolak atau mengikuti Rasulullah SAW saja tapi tidak ikhlas, karena faktor manusia, umpamanya, maka amal tersebut tertolak. Sampai benar-benar memenuhi dua kriteria itu. Inilah makna yang terkandung dalam Al-Qur’an surah Al-Kahfi 110 yang artinya : “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.”

  1. Islam Agama Pilihanku

    Saya memilih Islam sebagai agama pilihan saya karena dua alasan. Alasan pertama karena memang sejak lahir, saya mengikuti agama orang tua saya yang memeluk agama Islam. Keberadaan kedua orang tua yang memeluk agama Islam adalah sebab utama. Tumbuh dalam lingkungan keluarga yang islami membentuk pondasi utama keberagamaan saya. Kemungkinan besar jika lingkungan keluarga saya beragama lain, misalnya saja nasrani, kemungkinan besar saya juga akan beragama nasrani. Sesuai dengan sabda nabi ; “setiap kelahiran adalah suci, orang tuanyalah yang membentuknya menjadi nasrani, yahudi, atau majusi”.

    Alasan kedua adalah setelah saya dewasa dan cukup umur, saya akhirnya mulai berfikir mengenai Islam. Mulai membandingkannya dengan agama yang lain. Hal ini menambah keyakinan saya akan agama Islam. Saya makin mantap memeluk Islam karena Islam adalah agama yang paling sempurna. Islam mengatur mengenai kehidupan manusia, mulai dari hal-hal kecil hingga hal-hal yang besar. Islam adalah ajaran yang berlaku buat semua umat, agama yang mudah, cinta damai, paling seimbang, mengatur hubungan manusia dengan tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Singkatnya , Islam adalah agama yang universal.

  2. Legalitas Islam di Sisi Allah

    Islam adalah satu-satunya agama yang legal di sisi Allah swt. Hal ini dikatakan sendiri oleh Allah swt dalam hadits qudsiNya: Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”

    Dari ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa keberadaan Islam adalah sebagai penyempurna agama-agama sebelumnya. Allah menurunkan agama ke dunia agar manusia dapat hidup sesuai dengan jalan yang telah ditentukan oleh Allah, yaitu jalan ketuhanan. Dari ayat tersebut, maka dapat diketahui bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna.

  3. Islam Sebagai Satu-satunya Agama Samawi

    Saat ini, Islam adalah satu-satunya agama samawi. Hal ini dikarenakan bahwa Islam merupakan agama dari Allah, yang dibawah oleh Nabi akhir jaman yaitu Muhammad s.a.w. Maksudnya adalah, agama Islam adalah agama yang merupakan agama yang telah sempurna. Keberadannya dapat diartikan menyempurnakan ajaran-ajaran para nabi terdahulu termasuk agama nasrani dan agama Yahudi. Sesuatu yang menjadi penyempurna yang lain berarti bahwa yang lain tersebut tidak lagi digunakan karena telah disempurnakan. Ajaran-ajaran agama nasrani dan yahudi yang telah disempurnakan tersebut juga termaktub di dalam ajaran Islam itu sendiri. Alasan lainnya adalah bahwa kedua agama yang lain tersebut saat ini telah mengalami penyimpangan-penyimpangan yang berbahaya dari karakteristik agama samawi.

    Penyimpangan Nasrani dan Yahudi dari Karakteristik Agama Samawi

    Sebagai agama samawi, agama nasrani dan yahudi awalnya memenuhi kriteria agama samawi. Namun seiring dengan berjalannya waktu, satu persatu karakteristik tersebut lenyap. Sepeninggal para nabi mereka, keadaan menjadi berubah 180 derajat.
    1. Agama Diciptakan oleh Tokoh Agama

    Tidak ada lagi konsep bahwa agama itu berasal dari tuhan, sebab para pemuka agama baik pendeta, rahib, atau pun tokoh spiritul mereka telah mulai membuat sendiri agama itu, tambahan demi tambahan di sana sini mulai dibuat. Pengurangan-pengurangan juga acap dilakukan. Walhasil, dalam waktu yang singkat, agama nasrani dan yahudi sudah bukan lagi bersifat samawi, karena nyaris sudah dipermak habis-habisan oleh para tokohnya.

    Allah subhanahu wata’ala tegas sekali menyatakan bahwa apa dilakukan oleh umat nasrani dan yahudi itu sama saja dengan menyembah para tokoh agama.

    Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan Al-Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.(QS. At-Taubah: 31)

    Para tokoh agama nasrani dan yahudi dilaknat oleh Allah karena mereka punya kebiasan mengubah isi kitab suci. Dan umat Islam tidak terlalu diminta untuk berharap terlalu banyak dari umat nasrani dan yahudi untuk beriman.

    Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?(QS. Al-Baqarah: 75)
    2. Menyembah Nabi dan Orang Shalih

    Penyimpangan berikutnya adalah umat nasrani dan yahudi sudah tidak lagi menyembah Allah yang Esa, tetapi menambahi satu lagi sebagai tuhan baru (junior), yaitu nabi mereka sendiri.

    Konsep kenabian agama samawi telah mereka hancurkan, diganti dengan konsep penyembahan kepada orang suci. Maka dibuatlah patung-patung para nabi dan orang-orang shalih. Patung itu semula hanya sekedar untuk pengingat, namun beberapa generasi berikutnya mulai memberikan takzhim, penghormatan hingga berakhir dengan penyembahan.

    Ketika nabi Muhammad SAW dilahirkan di Makkah tahun 570 Masehi, di seputar ka’bah sudah bertengger 360 patung para nabi dan orang shalih. Dari mana datangnya patung-patung yang disembah?

    Awalnya datang dari negeri Yaman yang saat itu berpenduduk nasrani. Umat nasrani sedunia 500-an tahun setelah ditinggalkan oleh nabi Isa alaihissalama, sudah menjadi penggemar penyembahan patung nabi dan orang shalih mereka.

    Dari mana datangnya penyembahan patung di kalangan umat nasrani?

    Datang dari Eropa, ibukota dan surga para dewa sesembahan. Patung dan penyembahan berhala datang dari Eropa para saat negeri Eropa didatangi oleh agama nasrani yang masih bersih dari bumi Palestina.

    Sayang sekali, agama nasrani ini meski diterima di Eropa, namun nasibnya apes sekali. Alih-alih mentauhidkan bangsa Eropa, agama ini malah diberhalakan di Eropa. Masuklah paham keberhalaan khas Eropa dan diasimilasi di dalam agama nasrani. Sampai 300 tahun kemudian, resmilah nabi Isa naik pangkat menjadi tuhan dalam pemahaman agama ini. Lalu bunda Mariam yang di dalam Quran disebutkan sebagai wanita yang suci dan beriman, juga ikut-ikutan dijadikan tuhan, disembah dan dipatungkan.

    Ketika Al-Quran turun 200 tahun kemudian, vonis Allah kepada agama dan orang-orang nasrani yang berpaham Polytheisme ini tegas dan jelas: KAFIR.

    Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam”, padahal Al-Masih berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maidah: 72)

    Sesungguhnya kafirlah orang0orang yang mengatakan, “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.(QS. Al-Maidah: 73)
    3. Memalsu Kitab Suci

    Kitab suci Injil yang asalnya adalah firman Allah subhanahu wata’ala, lama kelamaan berubah isinya menjadi karangan Petrus, Yohanes, Markus, Lukas, dan lainny. Bukan lagi firman Allah tetapi karangan manusia.

    Kitab itu lalu diperdebatkan keotentikannya oleh mereka sendiri, maka berdirilah sekte-sekte yang saling berbeda. Muncul aliran-aliran gereja yang saling mengkafirkan.

    Awalnya bermula dari tidak adanya naskah asli Injil. Yang ada hanya catatan-catatan yang tidak pernah terjaga keasliannya. Ditambah lagi ciri khas para pemuka agama nasrani yang punya hobi membuat tambahan, sisipan, bahkan sampai menghapus naskah asli, demi sekedar kepentingan pribadi.

  4. Perbedaan Agama Samawi dan Ardhi

    Terdapat beberapa perbedaan mendasar antara agama samawi dengan agama Ardhi. Namun sebelum membahas perbedaan tersebut, perlu diuraikan terlebih dahulu pengertian masing-masing.

    Agama samawi ialah agama yang bersumberkan wahyu, termasuk Yahudi dan Nasrani yang dikelaskan sebagai ahlul kitab suatu sebutan yang melambangkan dekatnya ia dengan Islam. Malah sembelihan mereka boleh dimakan dan wanita mereka yang baik boleh dinikahi.

    Adapun agama ardhi ialah yang berasal dari bumi atau manusia sendiri, misalnya agama berhala dan animisme. Agama ardhi kedudukannya jauh dari agama samawi.

    Ada beberapa ciri dan karakteristik utama yang membedakan antara agama samawi dan agama ardhi, kami akan sebutkan beberapa di antaranya saja:

    1. Bukan tumbuh dari masyarakat, tapi diturunkan untuk masyarakat

    Agama samawi tidak diciptakan oleh manusia lewat kontemplasi atau perenungan. Berbeda dengan agama Budha, yang diciptakan oleh Sidharta Gautama. Sang Budha konon dahulu duduk merenung di bawah pohon Bodi, lalu mendapatkan temuan-temuan berupa nilai-nilai kehidupan, yang kemudian dijadikan sebagai dasar agama itu.

    Demikian juga, agama samawi sangat jauh berbeda dengan konsep pengertian agama menurut beberapa ilmuwan barat, yang memandang bahwa asalkan sudah mengandung pengabdian kepada suatu kekuatan tertentu, atau ada ajaran tertentu, atau ada penyembahan tertentu, maka sudah bisa disebut agama.

    Umumnya para ilmuwan barat cenderung menganggap sebuah aliran kepercayaan, spiritulisme tertentu serta nilai-nilai tertentu sebagai sebuah agama.

    Sementara konsep agama samawi adalah sebuah paket ajaran lengkap yang turun dari langit. Kata samawi mengacu kepada arti langit, karena tuhan itu ada di atas langit menurunkan wahyu. Wahyu bukan sekedar kata-kata ghaib atau magis, melainkan berisi hukum dan undang-undang yang mengatur semua tatanan hidup manusia, mulai dari masalah yang paling kecil hingga yang paling besar. Dari masalah mikro sampai masalah makro.

    Agama samawi tidak pernah menciptakan sendiri ajarannya, tetapi menerima ajaran itu dari atas langit begitu saja. Berbeda dengan agama ardhi, di mana ajarannya memang diciptakan, disusun, dibuat dan diolah oleh sesama makhluk penghuni bumi, manusia.
    2. Disampaikan oleh manusia pilihan Allah, utusan itu hanya menyampaikan bukan menciptakan

    Karena agama samawi datang dari tuhan yang ada di langit, dan tuhan tidak menampakkkan diriNya secara langsung, maka agama samawi mengenal konsep kenabian.

    Fungsi dan tugas nabi ini adalah menyampaikan semua kemauan, perintah, aturan, syariah, undang-undang dari tuhan kepada umat manusia. Seorang nabi tidak diberi wewenang untuk menciptakan ajaran sendiri. Nabi bukan manusia setengah dewa, maka tidak ada konsep penyembahan kepada nabi.

    Dalam konsep agama samawi, seorang nabi hanyalah seorang manusia biasa. Dia bisa lapar lalu makan, dia bisa haus lalu minum, dia juga bisa berhasrat kepada wanita lalu dia menikah. Namun di balik semua sifat kemanusiaannya, seorang nabi mendapat wahyu dari langit. Serta mendapatkan penjagaan dan pemeliharaan dari langit agar tidak melakukan kesalahan.

    Satu lagi fungsi seorang nabi yang tidak boleh dilupakan, yaitu sosok diri seorang nabi dijadikan suri tauladan, contoh hidup yang nyata, dan model untuk bisa ditiru oleh manusia.
    3. Memiliki kitab suci yang bersih dari campur tangan manusia

    Perbedaan lainnya lagi antara agama samawi dan agama ardhi adalah bahwa tiap agama samawi memiliki kitab suci yang turun dari langit. Kitab suci itu datang langsung dari tuhan, bukan hasil ciptaan manusia.

    Diturunkan lewat malaikat Jibril alaihissalam, kepada para nabi. Lalu para nabi mengajarkan isi wahyu itu kepada umatnya. Jadilah kumpulan wahyu itu sebagai kitab suci. Itu adalah proses turunnya Al-Quran. Atau bisa jadi Allah SWT menurunkan kitab itu sekaligus dalam satu penurunan, seperti yang terjadi para kitab-kitab suci yang turun kepada Bani Israil.

    Sedangkan agama ardhi seperti Hindu, Budha, Konghucu, Shinto, dan lainnya, meski juga punya kitab yang dianggap suci, namun bukan wayhu yang turun dari langit. Kitab yang mereka anggap suci itu hanyalah karangan dari para pendeta, rahib, atau pun pendiri agama itu. Bukan wayhu, bukan firman, bukan kalamullah, bukan perkataan tuhan.

    Dari sisi isi materi, umumnya kitab suci agama samawi berisi aturan dan hukum. Kitab-kitab itu bicara tentang hukum halal dan haram. Adapun kitab suci agama ardhi umumnya lebih banyak bicara tentang pujian, kidung, nyanyian, penyembahan.
    4. Konsep tentang Tuhannya adalah tauhid

    Agama samawi selalu mengajarkan konsep ketauhidan, baik Islam, yahudi atau pun nasrani. Tuhan itu hanya satu, bukan dua atau tiga, apalagi banyak.

    Sedangkan agama ardhi umumnya punya konsep bahwa tuhan itu ada banyak. Walau pun ada yang paling besar dan senior, tetapi masih dimungkinkan adanya tuhan-tuhan selain tuhan senior itu, yang boleh disembah, diagungkan, diabdi dan dijadikan sesembahan oleh manusia.

    Konsep bertuhan kepada banyak objek ini dikenal dengan istilah polytheisme. Agama dan kepercayaan yang beredar di Cina telah mengarahkan bangsa itu kepada penyembahan dewa-dewa. Ada dewa api, dewa air, dewa hujan, dewa tanah, dewa siang, dewa malam, bahkan ada dewa yang kerjanya minum khamar, dewa mabok.

    Kepercayaan bangsa-bangsa di Eropa pun tidak kalah serunya terhadap konsep dewa-dewa ini. Semua bintang di langit dianggap dewa, diberi nama dan dikait-kaitkan dengan nasib seseorang. Kemudian ada dewa senior di gunung Olympus, Zeus namanya. Dewa ini punya anak, setengah dewa tapi setengah manusia, Hercules namanya. Lalu para dewa itu bertindak-tanduk seperti manusia, bahkan hewan. Ada yang perang, ada yang berzina, ada yang mabuk-mabukan bahkan ada dewa yang kerjaannya melacurkan diri.

    Kepercayaan bangsa Romawi kuno hingga hari ini masih saja berlangsung di masyarakat barat, mereka masih sangat kental mempercayai adanya dewa-dewa itu.

    Agama samawi datang kenolak semua konsep tuhan banyak dan beranak pinak. Dalam konsep agama samawi, tuhan hanya satu. Dia Maha Sempurna, tidak sama dengan manusia, Maha Agung dan Maha Suci dari segala sifat kekurangan. Selain tuhan yang satu, tidak ada apa pun yang boleh disembah. Maka tidak ada paganisme (paham kedewaaan) dalam agama samawi.

  5. Manusia Sebagai Makhluk Terbaik dan Khalifah Allah

    Islam memposisikan manusia sebagai makhluk terbaik dan sekaligus sebagai khalifah Allah di bumi. Manusia sebagia makhluk terbaik karena manusia diciptakan lebih lengkap dari makhluk-makhluk yang lain. Sebagaimana firman-Nya (Q.S: At-Tin: 4) yang artinya; “sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

    Jika dibandingkan dengan tiga makhluk lainnya, maka; Malaikat adalah tidak sempurna karena hanya ruh dan akal, namun tidak ada nafsu, malaikat hanya dapat menjalankan komando dari Allah tanpa mampu mempertanyakannya. Syetan dan Jin, diciptakan berupa ruh, akal dan nafsu, tanpa jasmani, oleh karena itu, mereka cenderung membangkang kepada Allah. Alam diciptakan hanya berwujud jasmani saja. Sedangkan manusia diciptakan secara lengkap, terdiri dari jasmani, ruh, akal dan nafsu. Jasmani manusia membentuk keindahan bentuk manusia. Sedangkan dengan akal yang disertai nafsu, manusia mampu memilah mana yang baik mana yang buruk. Jika semua golongan syetan tersesat dan ingkar kepada Allah, maka tidak demikian dengan manusia. Manusia ada yang ingkar dan tidak sedikit yang beriman.

    Mengenai manusia diciptakan sebagai khalifah Allah di muka bumi, Allah sendiri berfirman mengenai hal ini. “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya   Aku hendak menjadikan di atas muka bumi itu seorang khalifah'”.( surah Al – Baqarah   : 30)

Al Quran menguraikan reproduksi manusia. Ketika berbicara tentang penciptaan manusia pertama kalinya, al Quran menunjukkan:

“Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah” (QS Shad[38]; 71)

Tetapi ketika berbicara tantang reproduksi maka secara umum Al Quran menunjukkannya dengan bentuk jamak “Kami”. “Kami” di sini dimaksudkan sebagian ulama dengan adanya campur tangan manusia dalam penciptaan manusia setelah Adam dan Hawa. Yaitu, di dalam proses kelahiran seseorang tidaklah lepas dengan peranan laki-laki dan perempuan yang melakukan hubungan sehingga bertemu antara sperma dan sel telur. Manusia diciptakan Allah sebagai khalifahnya di bumi karena mereka memiliki beberapa hal.

Manusia memiliki potensi

Potensi manusia antara lain tergambar dalam kisah Adam dan Hawa dalam surat Al Baqarah: 30-39. Di sana disebutkan bahwa sebelum kejadian manusia. Allah telah merencanakan manusia kelak akan memikul tanggung jawab sebagai khalifah di bumi. Untuk tujuan itu maka Allah memberikan anugerah lain selain jasmani dan ruh yaitu:

  1. potensi untuk mengetahui nama dan fungsi benda
  2. pengalaman hidup di surga oleh Adam dan Hawa
  3. petunjuk-petunjuk keislaman

(Quraish Shihab, M, Wawasan Al Quran, Mizan, Bandung, 1996)

Manusia memiliki keistimewaan dibanding makhluk lain

Selain karena mansuia memiliki potensi, manusia juga memiliki keistimiwaan-keistimewaan yang menyebabkan ia diciptakan sebagai khalifahNya di bumi. Pertama manusia adalah sebaik-baik makhluk dalam penciptaan. Demikian yang tersurat dalam At tin: 4

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”

Manusia mempunyai kelebihan otak yang digunakan untuk berpikir, diberikan hati untuk perasaan, belum lagi anggota badan secara umum seperti kepala, tangan, kaki, dan perut. Semua itu adalah kelebihan fisik yang begitu besar manfaatnya.

Kedua, manusia diberikan kelebihan sebagai satu-satunya makhluk yang bisa menyerap ilmu sewkaligus mengembangkannya. Hewan hanya memiliki insting, jin tak dapat mengembangkan ilmu, malaikat hanya melaksanakan perintah Allah tanpa berpikir, dan setan menggunakan logika yang salah dengan mengatakan bahwa api lebih mulia dibanding dengan tanah.

Manusia mampu mengoptimalkan Potensinya

Optimalisasi kemampuan tercermin dalam pemanfaatan kemampuan dari manusia itu sendiri terhadap potensi-potensi yang dimilikinya. Manusia diberikan kelebihan fisik tersebut guna memasimalkan tugas kekhalifahan di bumi. Dengan otak manusia diharapkan kehidupan di bumi secara umum dapat berkembang dengan baik dan terjaga dari kerusakan. Dengan tangan, manusia diharapkan memiliki kemampuan mencipta, dalam arti memanfaatkan potensi sumber daya dari Allah. Dengan lisan manusia diharapkan memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Dari hal-hal tersebut di atas maka jelaslah bahwa optimalisasi kemampuan tercermin dari optimalisasi potensi materi yang dimiliki oleh manusia dari Allah. Sekarang kita bisa melihat hasilnya yaitu dengan adanya kapal, pesawat terbang, motor, mobil, dan teknologi lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk kemashlahatan makhluk- manusia, hewan, dan tumbuhan.

  1. Urgensi Aqidah, Syari’ah, Akhlak dan Muamalah dalam Kehidupan manusia
    1. Urgensi Aqidah dalam kehidupan manusia

      Aqidah adalah keyakinan yang kuat, mantap dan tidak ada keraguan padanya. Sesuatu yang hanya ada dalam akal pikiran kita tidak disebut aqidah apabila kita masih belum meyakininya dengan kuat dan mantap yang tidak ada keraguan padanya.

      Segala sesuatu tidak akan mampu menggerakan manusia apabila ia belum meyakini sesuatu tersebut dalam dirinya. Binatang buas tidak akan menjadikan kita takut apabila kita tidak mengetahuinya dan tidak meyakini keberadaannya, sedangkan tikus kecil yang berada di samping kita akan membuat kita takut dan bahkan lari. Jelaslah bahwa hanya aqidah yang mampu menggerakkan manusia dan menjadikannya tenang dan damai.

      Berangkat dari keyakinan yang menancap dan tertanam dalam jiwa manusia inilah agama Islam yang lurus menekankan pentingnya iman dan urgensi aqidah agar supaya timbul pada manusia penggerak yang menggerakkannya untuk taat dan beramal saleh serta menjauhkannya dari maksiat dan perkara-perkara buruk lainnya.

      Allah Ta’ala berfirman: “Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (Surat Al-Baqarah (Sapi Betina) Ayat 285).

      Pembenahan aqidah merupakan asas dasar Dienul Islam. Tidaklah berlebihan sebab syahadat Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah merupakan rukun Islam yang pertama. Dan para rasul pertama kali menyeru kaumnya untuk membenahi aqidah mereka. Sebab aqidah merupakan dasar pondasi seluruh amal ibadah dan perbuatan yang dilakukan. Tanpa pembenahan aqidah amal menjadi tiada berguna. Allah Subhnahahu wa Ta’ala berfirman.

      “Artinya : Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan” [Al-An'am : 88]

      Yaitu akan hapuslah seluruh amalan mereka. Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

      “Artinya : Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun” [Al-Maidah : 72]

      Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

      “Artinya : Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu : “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi” [Az-Zumar : 65]

      Dari ayat-ayat diatas dan beberapa ayat lainnya jelaslah bahwa urgensi aqidah merupakan prioritas yang utama dan pertama dalam dakwah. Seruan dakwah pertama kali adalah kepada pembenahan aqidah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bermukim di kota Mekkah setelah diangkat menjadi rasul selama tiga belas tahun menyeru umat manusia kepada pembenahan aqidah, yakni kepada tauhid. Tidaklah diturunkan kewajiban-kewajiban ibadah kecuali setelah beliau hijrah ke Madinah. Memang benar, ibadah shalat diwajibkan ketika beliau berada di Makkah sebelum hijrah, akan tetapi bukankah syariat-syariat lainnya diwajibkan atas beliau setelah hijrah ke Madinah ? Hal itu menunjukkan bahwa amal ibadah itu baru dituntut setelah pembenahan aqidah. Orang yang mengatakan “cukuplah nilai keimanan tanpa memperhatikan perlu ambil peduli masalah aqidah” justru bertentangan dengan nilai keimanan itu sendiri. Sebab keimanan itu akan sempurna dengan memiliki aqidah yang benar dan lurus. Adapun jika aqidah belum benar, maka tidak akan ada tersisa iman dan nilai agama sedikitpun !

      Sebagaimana yang telah disinggung diatas maka jika seorang muslim memiliki aqidah yang benar maka amal ibadahnya-pun menjadi benar. Sebab aqidah yang benar akan mendorongnya melakukan amal shalih dan mengarahkannya kepada nilai-nilai kebaikan dan perbuatan terpuji. Apabila seseorang telah berikrar tiada Illah yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah didasari ilmu dan keyakinan serta ma’rifah, maka akan mendorongnya melakukan amal shalih. Sebab syahadat Laa Ilaaha Illallah bukanlah sekedar kata-kata yang diucapkan lisan begitu saja. Ia merupakan ikrar bagi I’tiqad dan amalan. Ikrar dan syahadat tersebut tidak akan lurus dan berguna kecuali dengan melaksanakan segala konsekwensinya berupa amal shalih, si pengingkar akan tergerak menegakkan rukun Islam dan Iman. Ditambah beberapa perintah-perintah agama dan disempurnakan dengan melaksanakan sunnah-sunnah dan nilai-nilai keutamaan lainnya.

    2. Urgensi Syariah dalam kehidupan manusia

      Beberapa waktu terakhir ini, kebutuhan akan ilmu keislaman khususnya syariat Islam terasa sangat kuat. Sebab semakin hari umat ini semakin sadar pentingnya syariat Islam untuk dijadikan landasan dalam kehidupan. Secara lebih rinci, berikut ini adalah beberapa pandangan yang ikut mendorong pentingnya kita mengusai syariah.

      1. Mengenal Syariah : Bagian dari Identitas Ke-Islaman Seseorang

      2. Allah SWT Mewajibkan Setiap Muslim Belajar Syariah

      Allah SWT berfirman :

      …Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ulama) jika kamu tidak mengetahui (QS. An-Nahl : 43)

      3. Syariah Adalah Kunci Memahami Al-Quran & As-Sunnah

      4. Ilmu Syariah Adalah Porsi Terbesar Ajaran Islam

      5. Tinginya Kedudukan Orang Yang Menguasai Syariah

      Allah SWT telah meninggikan derajat orang yang memiliki ilmu syariah dengan firman-Nya :

      …Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Maidah : 11)

      6. Tidak Paham Syariah Adalah Akar Perpecahan

      7. Keberadaan Ahli Syariah Sangat Menentukan Eksistensi Umat Islam

      8. Tipu Daya Orientalis dan Sekuleris Sangat Efektif Bila Lemah di Bidang Syariah

      9. Tanpa Ilmu Syariah Bisa Melahirkan Sikap Ekstrim Membabi Buta

      10. Keharusan Ada Sebagian Dari Ummat Yang Mendalami Syariah
      Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT tentang keharusan adanya sekelompok orang yang berkonsentrasi mendalami ilmu-ilmu syariah.

      Tidak sepatutnya bagi mu’minin itu pergi semuanya . Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.(QS. At-Taubah : 122)

      11. Masuk Islam Secara Kaaffah : Mustahil Tanpa Syariah

      Allah SWT telah memerintahkan hal dalam firman-Nya :

      Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.(QS. Al-Baqarah : 208)

    3. Urgensi Akhlaq dalam kehidupan manusia

      Islam menempatkan akhlak pada tempat yang sangat strategis, hal ini terwujud dalam beberapa hal diantaranya;Rasulullah Saw. diutus kepada umatnya dengan membawa risalah yang telah diwahyukan Allah swt. melalui Jibril, diantaranya yaitu untuk menyempurnakan akhlaq. Sebagai mana sabda Rasulullah Saw. dalam salah satu haditsnya;Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan keluhuran akhlak. (HR. Malik). Mendefenisikan agama sebagai akhlaq yang baik. Dalam sabda Rasulullah saw. ketika beliau ditanya tentang makna agama, beliau menjawab;”bahwa agama adalah akhlak yang baik“.

      Timbangan yang paling berat pada hari Kiamat adalah akhlak mulia. Rasulullah Saw. besabda; “Timbangan yang berat pada hari perhitungan nanti adalah takwa kepada Allah dan akhlak mulia”. Orang-orang mukmin yang bagus keimanannya dan lebih baik diantara mereka adalah yang paling mulia akhlaknya. Dan masih banyak lagi dalil yang menunjukkan bahwa Islam menempatkan akhlaq di posisi yang sangat tinggi. Sebagaimana qudwah kita, Nabi Muhammad Saw. memiliki akhlak yang baik dan sifat-sifat mulia. Dengan sifat-sifat tersebut, beliau mampu membawa risalah yang Allah Swt. amanatkan kepadanya dengan membuahkan hasil yang memuaskan, diantaranya dengan melahirkan generasi-generasi yang tangguh dan memiliki iman serta ketakwaan kepada Allah Swt. Sehingga, tak jarang beliau mendapat acungan jempol dari musuh-musuhnya dikarenakan akhlaknya yang mulia.

      Dan setelah kita mengetahui akan pentingnya akhlak mulia dalam Islam, timbul pula satu pertanyaan, adakah kita mampu membentuk akhlak yang mulia dalam kepribadian kita sehari-hari ? dan mampukah kita merubah tabiat buruk seseorang dan membimbingnya untuk berakhlak baik ?

      Akhlak yang baik secara umum dapat dibentuk didalam diri kita, karena Allah Swt. memerintahkan kita untuk berakhlak yang mulia dan menjauhi akhlak yang buruk. Dan jikalau hal ini tidak mungkin ditetapkan kepada manusia pasti Allah tidak akan mentaklifkan kepada manusia karena Islam tidak memerintahkan hal-hal yang mustahil kepada umatnya. Dan hal ini berdasakan kemampuan yang dimiliki setiap individu dan juga ilmu pengetahuan yang dikuasainya.

      Umumnya manusia itu telah dianugerahi oleh sebagian akhlak, dan akhlak-akhlak ini bisa terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

      Sabda Rasulullah Saw. kepada Abdul Qais; “Sesungguhnya pada engkau ada dua sifat yang Allah Swt. dan Rasul-Nya menyukai keduanya yaitu kelembutan dan kesabaran”; kemudian ia bertanya kepada Rasulullah; “saya akan berakhlak dengan keduanya, apakah Allah Swt. telah menciptakan keduanya kepadaku ?”. Rasulullah Saw. bersabda “bahkan kedua-duanya diciptakan kepada engkau”, maka ia menjawab; “alhamdulillah Allah Swt. telah menciptakan kedua sifat kepadaku yang mana Allah dan Rasul-Nya menyukai keduanya”. Adapun cara-cara dalam membentuk akhlak yang baik :a. Mengetahui macam-macam akhlak yang baik yang telah ditetapkan dalam agama Islam dan juga macam-macam akhlak yang buruk yang telah dilarang oleh Islam. Hal ini sangat penting sekali karena jikalau tidak diketahui oleh seseorang muslim bagaimana ia bisa membedakan akhlak yang baik dan akhlak yang tidak baik.

    4. Urgensi Muamalah dalam kehidupan manusia

      Dalam kegiatan muamalah yang notabene urusan ke-dunia-an, manusia diberikan kebebasan sebebas-bebasnya untuk melakukan apa saja yang bisa memberikan manfaat kepada dirinya sendiri, sesamanya dan lingkungannya, selama hal tersebut tidak ada ketentuan yang melarangnya. Kaidah ini didasarkan pada Hadist Rasulullah yang berbunyi: “antum a’alamu bi ‘umurid dunyakum” (kamu lebih tahu atas urusan duniamu). Bahwa dalam urusan kehidupan dunia yang penuh dengan perubahan atas ruang dan waktu, Islam memberikan kebebasan mutlak kepada manusia untuk menentukan jalan hidupnya, tanpa memberikan aturan-aturan kaku yang bersifat dogmatis. Hal ini memberikan dampak bahwa Islam menjunjung tinggi asas kreativitas pada umatnya untuk bisa mengembangkan potensinya dalam mengelola kehidupan ini, khususnya berkenaan dengan fungsi manusia sebagai khalifatul-Llah fil ‘ardlh (wakil Allah di bumi).

      Adanya muamalah dalam kehidupan manusia sangat penting artinya. Muamalah yang memutar dan menyokong kehidupan mansia. Seperti yang telah diketathui bahwa manusia adalah makhluk sosial. Tidak dapat hidup sendiri dan memerlukan bantuan orang lain. Dalam aspek ini, maka muamalahlah yang berperan. Muamalah memungkinkan manusia berhubungan dengan manusia yang lain dalam kerangka Islam. Tanpa adanya muamalah, maka manusia tidak dapat hidup dan melanjutkan kehidupannya di dunia.

  2. Pahala, Dosa, Balasan, Dan Ancaman Allah Swt

Sebagai umat Islam, kita harus yakin terhadap adanya pahala, dosa, balasan, dan ancaman Allah SWT. Demikian pula dengan penulis. Mengenai hal tersebut telah jelas seperti dalam firman Allah s.w.t (Q.S al-zalzalah:7-8); “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” Tetapi kenyataannya masih banyak diantara kita yang melakukan berbagai pelanggaran dan kurang tertarik untuk melakukan perintah agama ? Mengapa ?

Hal tersebut kemungkinan besar terjadi karena banyak yang melakukan perhitungan pahala dan dosa secara matematis. Maksudnya, menganggap bahwa amalnya adalah sekian dan dosanya sekian, dan berkesimpulan bahwa amal ibadahnya lebih banyak dari dosanya sehingga mereka menganggap tidaklah mengapa melakukan “dosa kecil” yang sedikit, karena toh, amal ibadahnya masih banyak menurut perhitungan mereka. Padahal, kita sama sekali tidak dapat menerapkan perhitungan matematis terhadap perihal pahala dan dosa. Bobot pahala dan dosa hanyalah hak Allah semata yang mengetahuinya. Demikian pula banyak orang yang beranggapan bahwa mumpung masih muda, dipuas-puaskannya dahulu untuk hidup di dunia. Melakukan berbagai macam tindakan yang termasuk perbuatan dosa pun tidaklah mengapa, karena beranggapan masih ada waktu untuk beramal sholeh di kemudian hari. Mungkin di saat waktu tuanya tinggal beribadah. Ini pun anggapan yang keliru, karena kita sebagai manusia tidak pernah tahu kapan ajal menjemput. Berapa batas umur kita di dunia. Alangkah malangnya nasib kita jika kita dipanggil oleh Allah dalam keadaan melakukan dosa.

Berkaitan dengan ayat di atas (Q.S al-Zalzalah:7-8), dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika turun surat Al Insaan ayat 8 kaum Muslimin menganggap bahwa orang yang bershadaqah sedikit tidak akan memperoleh pahala dan menganggap pula bahwa orang yang berbuat dosa kecil seperti berbohong, mengumpat, mencuri penglihatan dan sebangsanya tidak tercela serta menganggap bahwa ancaman api nereka dari Allah disediakan bagi orang yang berbuat dosa besar. Maka turunlah ayat ini (S.99:7,8) sebagai bantahan terhadap anggapan mereka itu, (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair.) dari hal tersebut maka jelaslah bahwa bila kita yakin akan adanya pahala dan dosa, janji dan ancaman Allah, maka seharusnya kita akan sebaik-baiknya menjalani hidup ini.

  1. Referensi dan Pegangan Aktivitas Sehari-hari
    1. Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Al-Ijtihad sebagai sumber ajaran agama Islam yang dijadikan referensi (rujukan) dalam melakukan berbagai aktivitas sehari-hari ?

      Dalam melakukan aktivitas sehari-hari, seorang muslim harus merujuk kepada al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijtihad. Dalam urutan yang tidak boleh dibalik-balik. Artinya, apabila kita menemukan permasalahan dalam hidup, hal pertama yang harus kita lakukan adalah merujuk kepada al-Qur’an. Al-Quran adalah jalan hidup utama bagi setiap muslim. Sebagaimana hadits nabi SAW: “telah aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, yang apabila kalian berpegang teguh padanya , niscaya kalian tidak akan tersesat, yaitu al-Quran dan sunnahku“.

      Mengenai ijtihad, rasulullah pernah menyodorkan pertanyaan kepada shahabat Muadz bin Jabal mengenai sebuah perkara yang harus dilakukannya. Beliau bertanya bagaimana muadz akan memutuskan suatu perkara nanti. Muadz menjawab berdasarkan Wahyu Allah. Rasulullah membenarkan, kemudian bertanya kembali, bagaimana jika tidak ditemukan dalam Wahyu? Muadz menjawab, dengan Sunnah Rasulullah. Rasul membenarkan, dan bagaimana bila tidak ditemukan dalam Sunnah? Maka muadz menjawab, dengan ijtihadku. Rasulullah membenarkan kembali jawaban Muadz. Berdasarkan hadits tersebut, maka permasalahan-permasalahan hidup yang tidak ditemukan di dalam al-Quran, al-Hadits selanjutnya dipecahkan dengan ijtihad.

    2. Keimanan dan ketaqwaan yang harus dipegang erat-erat dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari ?

      Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus erat berpegang pada keimanan dan ketakwaan. Iman berarti percaya dalam hati bahwa Allah SWT itu ada, sekaligus beramal dengannya. Dengan iman yang kokoh, berarti kita percaya bahwa Allah itu ada dengan segala sifatNya dan selalu mengawasi kita. Setelah iman kepada Allah, kita juga harus bertakwa (yaitu takut kepada Allah). Takwa berarti takut, dan mendekat kepadaNya. Dengan adanya takwa, maka kita takut bila akan melakukan perbuatan yang melanggar ketentuanNya. Dengan demikian, kita akan senantiasa melakukan kebajikan dan menjauhi larangan Allah.

      Apabila suatu saat kita menerima suatu musibah, maka dengan beriman dan bertakwa kepada Allah, kita akan mampu melaluinya dengan baik. Percaya bahwa Allah lah yang menciptakan segala sesuatu termasuk musibah, dan percaya bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan melampaui kemampuan hambanya. Maka kita akan memperoleh kekuatan untuk menjalani hidup. Cobaan yang kita terima pada hakikatnya diberikan untuk mengukur tingkat keimanan dan ketakwaan kita kepadaNya. Dan akhirnya untuk kita pergunakan demi meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepadanya yang lebih baik lagi.

  1. Pengaruh globalisasi dan akulturasi

    Globalisasi dan akulturasi terlihat jelas di kota-kota besar. Dimana penduduknya sebagian besar telah memiliki akses teknologi tinggi dan bersentuhan langsung dengan penduduk lain dari belahan dunia manapun. Cara pandang kehidupan mereka pun telah mulai bercampur. Bila dulu, sebagaimana di Arab, persaudaraan di junjung tinggi, kejujuran dianggap paling agung dan karakteristik Islam memiliki keunggulan pribadi yang lulur, sekarang sangat berbeda karena pengaruh globalisasi dan akulturas tersebut. Oleh sebab itu kita harus mengambil sikap yang benar dalam menghadapinya agar keimanan, ketakwaan dan akhlak kita tidak terpengaruh.

    Sikap yang baik adalah menyaring mana yang baik mana yang buruk dari budaya yang masuk dengan berpegangan pada aturan yang ada di dalam al-Quran dan al-Hadits. Pada hakikatnya, al-Quran telah mengatur segala segi kehidupan manusia dan al-hadits kemudian menjabarkannya lebih jelas mengenai hal-hal yang belum ada di dalam al-Quran. Dalam menyaring budaya ini, kita tidak boleh hanya menggunakan hukum adat istiadat atau kebiasaan di dalam masyarakat saja. Sebagaimana Allah sendiri telah menegaskan bahwa mungkin saja sesuatu yang kita sukai adalah buruk bagi kita dan hal yang kita benci adalah baik bagi kita. Pandangan manusia sangatlah terbatas dibandingkan dari ilmu Allah. Oleh sebab itu, wajib hukumnya menetapkan segala hal berdasarkan al-Quran dan al-Hadits.

  1. Faham-faham aliran Global yang Sesat
    1. Pluralisme

    Pluralisme sebagai paham religius artifisial yang berkembang di Indonesia, mengalami perubahan ke bentuk lain dari asimilasi yang semula menyerap istilah pluralism.

    Menurut asal katanya Pluralisme berasal dari bahasa inggris, pluralism. Apabila merujuk dari wikipedia bahasa inggris, maka definisi [eng]pluralism adalah : “In the social sciences, pluralism is a framework of interaction in which groups show sufficient respect and tolerance of each other, that they fruitfully coexist and interact without conflict or assimilation.” Atau dalam bahasa Indonesia : “Suatu kerangka interaksi yg mana setiap kelompok menampilkan rasa hormat dan toleran satu sama lain, berinteraksi tanpa konflik atau asimilasi (pembauran / pembiasan).

    Saat ini pluralisme menjadi polemik di Indonesia karena perbedaan mendasar antara pluralisme dengan pengertian awalnya yaitu pluralism sehingga memiliki arti :

  • pluralisme diliputi semangat religius, bukan hanya sosial kultural
  • pluralisme digunakan sebagai alasan pencampuran antar ajaran agama
  • pluralisme digunakan sebagai alasan untuk merubah ajaran suatu agama agar sesuai dengan ajaran agama lain

Jika melihat kepada ide dan konteks konotasi yang berkembang, jelas bahwa pluralisme di indonesia tidaklah sama dengan pluralism sebagaimana pengertian dalam bahasa Inggris. Dan tidaklah aneh jika kondisi ini memancing timbulnya reaksi dari berbagai pihak.

Pertentangan yang terjadi semakin membingungkan karena munculnya kerancuan bahasa. Sebagaimana seorang mengucapkan pluralism dalam arti non asimilasi akan bingung jika bertemu dengan kata pluralisme dalam arti asimilasi. Sudah semestinya muncul pelurusan pendapat agar tidak timbul kerancuan.

Pluralisme agama (sebagai obyek persoalan yang ditanggapi) dalam arti “suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relative; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengkalim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga”. Kalau pengertian pluralisme agama semacam itu, maka paham tersebut difatwakan MUI sebagai bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Bagi mereka yang mendefinisikan pluralism – non asimilasi, hal ini di-salah-paham-i sebagai pelarangan terhadap pemahaman mereka, dan dianggap sebagai suatu kemunduran kehidupan berbangsa. Keseragaman memang bukan suatu pilihan yang baik bagi masyarakat yang terdiri atas berbagai suku, bermacam ras, agama dan sebagainya. Sementara di sisi lain bagi penganut definisi pluralisme – asimilasi, pelarangan ini berarti pukulan bagi ide yang mereka kembangkan. Ide mereka untuk mencampurkan ajaran yang berbeda menjadi tertahan perkembangannya.

Penulis sendiri beranggapan bahwa paham pluralisme memang paham yang sesat apabila diartikan sebagai pencampuradukan agama. Hal ini karena masing-masing agama memiliki aturan sendiri-sendiri.

  1. Liberalisme

Liberalisme adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama.

Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Liberalisme menghendaki adanya, pertukaran gagasan yang bebas, ekonomi pasar yang mendukung usaha pribadi (private enterprise) yang relatif bebas, dan suatu sistem pemerintahan yang transparan, dan menolak adanya pembatasan terhadap pemilikan individu. Oleh karena itu paham liberalisme lebih lanjut menjadi dasar bagi tumbuhnya kapitalisme.

Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama mendasarkan kebebasan mayoritas. ngan-pandangan liberalisme dengan paham agama seringkali berbenturan karena liberalisme menghendaki penisbian dari semua tata nilai, bahkan dari agama sekalipun. meski dalam prakteknya berbeda-beda di setiap negara, tetapi secara umum liberalisme menganggap agama adalah pengekangan terhadap potensi akal manusia.

Dalam hal ini, menurut penulis, paham liberalisme kurang dapat diterima sebagai suatu paham yang benar. Hal tersebut karena untuk membentuk suatu tatanan masyarakat yang baik, diperlukan seperangkat peraturan-peraturan yang mengikat atas dasar mashlahah dan mursalah. Jika sebuah masyarakat dibiarkan tanpa adanya peraturan yang mengekang maka yang dapat terjadi adalah umat manusia akan kembali ke jaman jahiliyah.

  1. Sekularisme

Sekulerisme merupakan aliran baru dan gerakan yang rusak, bertujuan untuk memisahkan urusan dien dari negara, berjibaku di atas keduniawian dan sibuk dengan kenikmatan dan kelezatannya serta menjadikannya sebagai satu-satunya tujuan di dalam kehidupan ini, melupakan dan melalaikan rumah akhirat dan tidak melirik kepada amalan-amalan ukhrawi ataupun memperhatikannya.

Sabda Rasulullah berikut ini sangat tepat dilabelkan kepada seorang sekuler,
” Artinya : Celakalah budak dinar, budak dirham dan budak khamishah (sejenis pakaian terbuat dari sutera atau wol, berwarna hitam dan bertanda); jika diberi, dia rela dan jika tidak diberi, dia mendongkol. Celaka dan merugilah (sia-sialah) dia dan bila duri mengenainya, maka dia tidak mengeluarkannya” [Al-Bukhari, al-Jihad (2883)]

Tujuan utama kaum sekuler adalah menggabungkan dunia dan kenikmatan pelampiasan hawa nafsu sekalipun diha-ramkan dan mencegah dari melakukan kewajiban, maka mereka masuk ke dalam makna ayat di atas dan juga ayat berikut,

“Artinya : Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” [Al-Isra :18]

Berpijak dari hal tersebut di atas, maka paham sekulerisme sungguh sangat berbahaya bagi umat islam. Sangat bertentangan dan harus dijauhi.

  1. Multivite education

Mungkin yang dimaksud adalah “multifaith education”. Penulis mencoba mencari di internet dengan kata kunci multivite education namun tidak menemukan maksud yang sesuai dengan pembahasan mengenai islam. Sedangkan bila menggunakan kata kunci multifaith education, maka ada beberapa artikel yang memang pantas untuk dikaji. Hasilnya kurang lebih berikut ini (http://www.multifaitheducationproject.org/aboutus.html):

The Multifaith Education Project is a nonpolitical, nonprofit program that promotes peace by bringing Jewish, Christian and Muslim children together to learn about each other’s religions and cultures.

The project sprouted from the The Olive Trees Foundation for Peace, which is a 501(c)(3) nonprofit organization celebrating peace and diversity through planting olive trees in the Middle East.

Currently, the Multifaith Education Project involves middle-school youth who attend Muslim, Jewish and Christian schools in Central Florida. It is the hope of project founders that the idea will spread to other communities.

How does the program work?
Children meet several times a year at each of the participating schools. Other activities include an annual essay contest, tree planting for peace and a summer camp in New York.

Multifaith Education adalah program nonpolitik dan nonprofit yang berusaha memajukan perdamaian dengan menyatukan anak-anak muslim, kristen dan yahudi bersama-sama belajar mengenai masing-masing agama dan kebudayaan. Proyek ini tumbuh dari The Olive Trees Foundation demi perdamaian, yang merupakan organisasi nonprofit yang merayakan perdamaian dan perbedaan melalui penanaman pohon zaitun di Timur Tengah.

Melalu deskripsi mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam program tersebut, multifaith education atau pendidikan multiagama tampaknya membawa niat baik, yaitu membawa misi sebagai agen duta perdamaian. Mendidik anak-anak beragama baik islam, kristen maupun yahudi menjadi duta perdamaian. Sayangnya penulis kurang begitu mengerti secara detail mengenai apa saja kegiatannya. Apakah di dalamnya termasuk membahas mengenai keyakinan agama? Apakah di dalamnya anak diharuskan untuk mengakui keberadaan agama lain? Karena pada hakikatnya, dalam islam, kebebasan beragama juga dijamin oleh Allah SWT. Walaupun demikian, tetap Allah sendiri mengatakan bahwa satu-satunya agama yagn diterima di sisi Allah adalah Islam. Jika ditelaah lebih jauh lagi, agama yahudi dan kristen pun dahulu disebut sebagai Islam, karena memang sumber keberagamaannya adalah sama, yaitu Allah. Pendidikan model demikian, yang menganggap semua agama sama akan sangat berbahaya karena dapat mengikis akidah. Namun jika hanya menekankan pada rasa saling menghormati, tanpa memaksakan argumen-argumen yang harus dipercayai, maka hal tersebut boleh-boleh saja karena islam sendiri mengajarkan umatnya untuk menghormati umat beragama lain.

Apabila ditelaah kembali, maka sebenarnya pendidikan tersebut tidak perlu, karena jika seseorang memahami ajaran Islam, sebagai muslim tentu akan secara otomatis mencintai perdamaian. Karena Islam bukan agama terorisme dan kekerasan, islam cinta perdamaian.

  1. Mengamalkan Ajaran Islam secara Kaffah

Mengamalkan ajaran-ajaran Islam secara Kaffah sangatlah berat. namun sebagai umat Islam, kita tidak boleh keberatan mengamalkan ajaran Islam sendiri. Beratnya mengamalkan ajaran Islam secara kaffah adalah karena kita sering dihadapkan pada hawa nafsu kita sendiri. Seringkali aturan dan larangan dari Allah tampak memberatkan bagi kita untuk dilaksanakan atau ditinggalkan. Dalam hal ini, memang, tipu daya syetan sangatlah halus dalam rangka menyesatkan manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa kendaraan paling ampuh bagi tipu daya ini adalah hawa nafsu manusia. Terlebih lagi, di masa sekarang ini, proses percampuran antar budaya telah terjadi yang bahayanya dapat merusakkan aqidah, iman dan taqwa serta akhlak kaum muslimin. Salah satunya adalah dengan banyak sekali hal-hal yang dibuat samar-samar oleh syetan. Sehingga umat Islam cenderung menganggap hal yang samar tersebut boleh dilakukan. Padahal dalam ajaran Islam hal yang samar (syubhat) sebaiknya ditinggalkan karena dapat jatuh ke hukum haram.

Untuk dapat mengatasi rasa beratnya menjalankan ajaran Islam secara kaffah, kita harus terlebih dulu meningkatkan keimanan kita kepada Allah. Merefisi ulang tujuan hidup kita, yaitu hanya untuk beribadah kepadaNya, karena memang manusia dan Jin diciptakan oleh Allah hanya untuk tunduk, patuh dan beribadah kepadaNya. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (Adz-Zariat: 56). Keimanan kita selalu bertambah dengan cara selalu meningkatkan pemahaman kita mengenai agama. Jadi, kita harus selalu belajar dan menambah pengetahuan kita mengenai Islam. Hanya dengan cara inilah, maka kita dapat mengamalkan ajaran islam secara Kaffah. Karena bagaimana kita dapat mengamalkan ajaran Islam secara kaffah jika kita tidak tahu ajarannya bagaimana.

  1. Masalah-masalah khilafiah dan masalah baru dalam dunia islam
    1. Masalah Khilafiyah

      Masalah khilafiyah muncul karena adanya perbedaan pendapat antara ulama mengenai hal baru yang ditemukan dan belum ada hal yang jelas dalam al-Quran maupun al-Hadits. Masalah khilafiyah muncul karena ijtihad para ulama berbeda. Hal ini sungguh merupakan hal yang biasa dan menurut penulis merupakan hal yang tidak perlu dipermasalahkan, apalagi sampai memunculkan perpecahan. Adanya khilafiyah justru merupakan rahmat menurut Islam. Perbedaan pendapat menunjukkan keluasan ajaran Islam. Menunjukkan banyaknya pilihan yang dapat diambil oleh masing-masing orang. Justru dengan adanya khilafiyah, menunjukkan alangkah Allah maha luas. Khilafiyah seharusnya mengajarkan kita untuk saling memahami dan mengasihi antar sesama.

    2. Pernikahan Silang antar Agama

      Pernikahan silang antar agama sangat merusak akidah umat Islam. Al-Quran sendiri (Q.S al-Baqoroh: 221) telah menegaskan bahwa :

      Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”

      Dikatakan bahwa seorang budak beriman lebih baik daripada wanita atau pria musyrik merupakan hal yang sangat harus diperhatikan. Karena jaman dahulu, seorang budak adalah orang yang tidak memiliki hak, harga diri dan kehormatan sama sekali di dalam masyarakat. Al-Quran tidak mengatakan mengenai buruknya rupa ataupun banyak sedikitnya harta benda yang dimiliki, namun merujuk pada posisi sosial di masyarakat. Allah kemudian memberikan alasan mengapa pria atau wanita beriman lebih baik daripada pria atau wanita musyrik, yaitu dengan mengatakan bahwa musyrik membawa ke neraka sedang Allah mengajak ke surga.

      Oleh sebab itu, menurut penulis, pernikahan silang antar agama sangatlah ditentang oleh Allah. Pernikahan semacam ini dilarang oleh Allah dan dengan begitu tidak sah.

    3. Ziarah Kubur

      Mengenai ziarah kubur, penulis melihat hal tersebut pernah dilarang oleh Nabi Muhammad karena peziarah memohon sesuatu kepada orang yang telah mati. Namun nabi juga pernah bersabda bahwa orang yang telah mati terputuslah amal ibadahnya kecuali 3 hal; shodaqoh jariyah, amal sholeh, dan anak sholeh yang mendoakan kepadanya. Oleh sebab itu, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa ziarah kubur adalah boleh dan justru baik jika kita berziarah untuk mendoakan khususnya orang tua kita yang telah meninggal. Ziarah kubur menjadi haram hukumnya jika kita berziarah untuk meminta sesuatu kepada mereka yang telah meninggal dunia seperti makam wali songo dan orang-orang saleh.

    4. Bayi Tabung

      Bayi tabung dihukumi boleh jika sperma dan sel telur berasal dari pasangan suami istri dan dilakukan karena alasan yang diperbolehkan oleh aturan syar’I, misalnya karena rahim sang ibu lemah sehingga dikhawatirkan jika mengandung akan merenggut nyawanya.

      Hukumnya menjadi haram apabila sperma dan sel telur berasal dari bukan pasangan suami istri. Misalnya demi memperoleh keturunan yang unggul, digunakan salah satu dari keduanya berasal dari orang-orang di luar ikatan pernikahan. Maka jika demikian yang terjadi, sama saja dengan melakukan perzinaan. Sedangkan perzinaan hukumnya haram dalam Islam.

    5. Operasi Plastik

      Tentang operasi plastik, operasi untuk merubah bentuk tubuh manusia juga memiliki dua buah hukum. Hukum pertama adalah boleh, apabila dilakukan untuk kemaslahatan, misalnya untuk mengganti bagian kulit yang rusak akibat kecelakan, kebakaran atau hal lain. Seorang yang mengalami luka bakar di wajah boleh melakukan operasi plastik karena mengandung maslahat baginya.

      Namun lain hukumnya bagi orang yang melakukan operasi plastik untuk keperluan yang tidak penting, artinya tidak berhubungan dengan hal-hal mendesak seperti di atas. Melainkan hanya untuk membuat dirinya menjadi menarik. Untuk kasus yang satu ini, penulis berpendapat bahwa operasi plastik seperti ini tidak boleh. Hal tersebut selain karena mashlahatnya tidak ada, juga menunjukkan rasa kurang bersyukur dari pelakunya. Sedangkan, kita sebagai umat Islam diperintahkan untuk sering-sering bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah, jika tidak ingin diazab olehNya.

    6. Vasektomi dan Tubektomi

      Allah SWT melarang kita merubah bentuk ciptaanNya. Oleh sebab itu, tindakan vasektomi dan tubektomi sungguh dilarang apabila tanpa didasari oleh kepentingan yang lebih mendesak, misalnya demi keselamatan nyawa. Allah berfirman dalam al-Quran agar manusia tidak takut memiliki anak dan tidak takut dengan apa memberi makan anak. Karena pada hakikatnya, Allah lah yang menentukan jalan rejekinya.

    7. Asuransi dan Perbankan Konvensional

      Kedua jenis hal ini dalam Islam dilarang karena mengandung unsur riba. Walaupun pada kenyataannya, banyak manfaat yang diperoleh dari asuransi dan perbankan konvensional. Asuransi memberikan manfaat bila sesuatu yang diasuransikan mengalami kecelakaan yang tidak direkayasa oleh manusia. Sedangkan perbankan konvensional umumnya menerapkan konsep bunga bank. Walaupuan demikian terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama mengenai halal dan haramnya bank. Ada yang mengatakan boleh karena adanya manfaat. Dan ada yang mengatakan boleh asal tidak mengambil bunganya. Namun ada pula yang mutlak mengharamkannya.

      Menurut penulis, lebih baik menggunakan sistem perbankan yang sesuai syariah saja, yaitu tidak menggunakan konsep bunga, melainkan bagi hasil. Hal ini karena jelas bahwa bunga bank adalah riba.

  2. Kewajiban Umat Islam terhadap al-Quran dan as-Sunnah

    Menurut penulis, sebagai umat Islam, kita memiliki beberapa kewajiban terhadap al-Quran dan as-Sunnnah antara lain:

    1. Meyakininya

      Kita harus meyakin bahwa al-quran adalah kalam Allah dan as-Sunnah adalah tuntunan dari nabi yang juga bersumber dari Allah. Kita harus yakin bahwa dengan berpegang teguh kepada keduanya, kehidupan kita akan sejahtera.

    2. Membacanya dan mempelajarinya sebagai ibadah

      Membaca al-Quran adalah sebuah ibadah. Sedangkan mempelajari dan mengetahui sunnah nabi maupun al-Quran adalah jalan yang lulur menuju ibadah itu sendiri.

    3. Mengamalkannya

      Setelah kita membaca dan memahami al-Quran dan as-Sunnah, maka sudah sepantasnya sebagai ummat islam kita memikul tanggung jawab untuk mengamalkan ajaran yang ada di dalamnya. Hal ini sebagai bukti bahwa kita benar-benar meyakini keduanya sebagai penuntun hidup kita.

  3. Urgensi Ilmu

    Dalam al-Quran Allah menegaskan dalam Surat Ar-rahman: 33: Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. Dalam hal ini Allah sendiri memerintahkan manusia dan jin untuk melintasi langit dan bumi dan dikatakan bahwa mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali dengan kekuatan (maksudnya adalah Ilmu).

    Dalam hadits nabi sendiri dikatakan: Barang siapa menginginkan dunia maka harus dengan ilmu, barang siapa menginginkan akhirat maka harus dengan ilmu dan barang siapa menginginkan keduanya juga harus dengan ilmu. Dari kedua dalil diatas dapat disimpulkan bahwa ilmu sangatlah penting dalam hidup. Tanpa ilmu, manusia tidak akan mampu melakukan apa pun. Bahkan jika ingin beribadah untuk menuju ke alam akhirat pun harus ditempuh dengan ilmu. Maka menuntut ilmu hukumnya wajib dalam Islam, baik di kehidupan di dunia maupun di akhirat.

  4. Kewajiban Umat Islam terhadap Ilmu

    Kewajiban umat islam terhadap ilmu adalah:

    1. Mencari ilmu

      Mencari ilmu menjadi sesuatu yang wajib bagi umat Islam. Hal ini karena dalam Islam diperintahkan untuk mencari ilmu walaupun harus menjelajahi bumi hingga negeri cina sebagaimana sabda nabi : Tuntulah ilmu walau hingga sampai ke negeri cina.

    2. Menjaganya

      Setelah ilmu didapat, maka kita diwajibkan untuk selalu menjaganya. Menjaga ilmu berarti selalu mengamalkannya. Mengamalkan ilmu yang diperoleh di dalam kehidupan dengan jalan; bekerja atau mengajarkannya kepada orang lain yang memerlukan, atau sekedar menuliskannya.

  5. Manusia dalam Perspektif Islam vs teori Darwin

    Dalam perspektif Islam, manusia berada dalam tingkat yang paling tinggi diantara seluruh makhluk ciptaan Allah. Q.S At-tin: 3 mengatakan ; sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Hal ini membuktikan bahwa dalam al-quran, manusia diciptakan sebagai makhluk terbaik jika dibandingkan dengan kera.

    Berbeda dengan teori Darwin yang mengatakan bahwa nenek moyang manusia berasal dari kera. Hal ini sungguh merendahkan martabat manusia sendiri. Dalam sejarah Islam, pernah ada suatu kaum yang dikutuk oleh Allah menjadi kera. Apabila dikaitkan dengan penemuan fosil oleh Darwin, maka ada kemungkinan besar, dan hal ini belum dapat dibuktikan, bahwa fosil yang ditemukan oleh Darwin adalah mata rantai yang hilang dari sejarah, yaitu manusia yang dikutuk oleh Allah menjadi kera tersebut. Jelaslah, bahwa teori Darwin ini salah. Wallahu a’lam.

  6. Keharusan Membaca al-Quran dengan Baik dan Benar

    Kita harus membaca al-Quran dengan baik dan benar. Allah berfirman (Q.S al-muzammil: 4); Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Perlahan-lahan di sini adalah berarti dengan baik dan benar, asal bahasa arabnya adalah tartil. Dengan baik maksudnya adalah membaca al-Quran dengan pelan dan tidak tergesa-gesa, dengan suara yang indah. Adapun membaca al-Quran dengan benar berarti tidak menerjang makhraj huruf, panjang pendeknya dan tidak pula mengganti hurufnya sehingga dapat mengubah arti.

    Kita harus membaca al-Quran dengan baik dan benar karena apabila kita membacanya dengna asal-asalan saja hal tersebut dapat merubah makna kandungan ayat. Hal tersebut sangat dilarang oleh Allah, karena al-Quran adalah kalam ilahi, maka merubah makna dapat berakibat fatal.

  7. Ilmu Tajwid dalam membaca Al-Quran

    Ilmu tajwid adalah ilmu untuk memperbaiki bacaan al-Quran. Di dalam ilmu tersebut dipelajari mengenai huruf-huruf hijaiyah, harakat, panjang pendek bacaan al-quran, tempat-tempat kita boleh berhenti dan tidak berhenti dalam membaca al-quran dan lain sebagainya. Ilmu ini wajib dipelajari oleh semua muslim karena berkaitan dengan hal paling utama dalma Islam yaitu untuk dapat membaca al-Quran yang merupakan wahyu Allah. Pentunun jalan hidup seluruh umat islam.

    Agar dapat membaca al-quran dengan baik dan benar, tentu saja kita harus belajar membaca al-quran dengan tajwid. Untuk itu kita harus tekun belajar ilmu tajwid. Agar dapat memahami makna atau arti ayat-ayat suci al-quran, kita dapat belajar ilmu bahasa arab. Setelah kita mampu memahami dan menghayatinya, barulah kita dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

  8. Shalat Fardhu tidak Boleh Ditinggalkan

    Shalat adalah rukun islam yang kedua setelah membaca syahadat. Oleh sebab itu, betapa pentingnya kedudukan shalat bagi seorang muslim dapat dilihat dari posisinya sebagai yang kedua setelah bukti seseorang masuk islam dengan membaca dua kalimat syahadat. Pentingnya shalat juga dapat dilihat dalam firman Allah SWT (Q.S al-An kabut : 45); Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Bahwa shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Orang Islam yang menegakkan shalat (bukan sekedar menjalankan shalat) akan terhindar dari perbuatan-perbuatan yang keji, perbuatan yang menyakiti sesama muslim, dan perbuatan-perbuatan yang munkar, yaitu perbuatan-perbuatan yang salah, keluar dari jalan Allah.

  9. Hikmah Mendirikan Shalat

    Ibadah shalat yang merupakan ibadah teragung dalam Islam termasuk ibadah yang kaya dengan kandungan hikmah kebaikan bagi orang yang melaksanakannya. Siapaun yang mengetahui dan pernah merasakannya mengakui hak itu, oleh karena itu dia tidak akan rela meninggalkannya, sebaliknya orang yang tidak pernah mengetahui akan berkata, untuk apa shalat? Dengan nada pengingkaran.

    Pertama: Manusia memiliki dorongan nafsu kepada kebaikan dan keburukan, yang pertama ditumbuhkan dan yang kedua direm dan dikendalikan, dan sarana pengendali terbaik adalah ibadah shalat. Kenyataan membuktikan bahwa orang yang menegakkan shalat adalah orang yang paling minim melakukan tindak kemaksiatan dan kriminal, sebaliknya semakin jauh seseorang dari shalat, semakin terbuka peluang kemaksiatan dan kriminalnya.

    Firman Allah, “Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar.” (Al-Ankabut: 45).

    Dari sini kita memahami makna dari penyandingan Allah antara menyia-nyiakan shalat dengan mengikuti syahwat yang berujung kepada kesesatan.

    Firman Allah, “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59).

    Kedua: Seandainya seseorang telah terlanjur terjatuh kedalam kemaksiatan dan hal ini pasti terjadi karena tidak ada manusia yang ma’shum (terjaga dari dosa) selain para nabi dan rasul, maka shalat merupakan pembersih dan kaffarat terbaik untuk itu.

    Rasulullah saw mengumpamakan shalat lima waktu dengan sebuah sungai yang mengalir di depan pintu rumah salah seorang dari kita, lalu dia mandi di sungai itu lima kali dalam sehari semalam, adakah kotoran ditubuhnya yang masih tersisa?

    Dari Abu Hurairah berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Menurut kalian seandainya ada sungai di depan pintu rumah salah seorang dari kalian di mana dia mandi di dalamnya setiap hari lima kali, apakah masih ada kotorannya yang tersisa sedikit pun?” Mereka menjawab,”Tidak ada kotoran yang tersisa sedikit pun.” Rasulullah saw bersabda, “Begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

    Dari Ibnu Mas’ud bahwa seorang laki-laki mendaratkan sebuah ciuman kepada seorang wanita, lalu dia datang kepada Nabi saw dan menyampaikan hal itu kepada beliau, maka Allah menurunkan, “Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (Hud: 114) Laki-laki itu berkata, “Ini untukku?” Nabi saw menjawab, “Untuk seluruh umatku.” (Muttafaq Alaihi).

    Ketiga: Hidup manusia tidak terbebas dari ujian dan cobaan, kesulitan dan kesempitan dan dalam semua itu manusia memerlukan pegangan dan pijakan kokoh, jika tidak maka dia akan terseret dan tidak mampu mengatasinya untuk bisa keluar darinya dengan selamat seperti yang diharapkan, pijakan dan pegangan kokoh terbaik adalah shalat, dengannya seseorang menjadi kuat ibarat batu karang yang tidak bergeming di hantam ombak bertubu-tubi.

    Firman Allah, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (Al-Baqarah: 45).

    Ibnu Katsir berkata, “Adapun firman Allah, ‘Dan shalat’, maka shalat termasuk penolong terbesar dalam keteguhan dalam suatu perkara.”

    Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 153).

    Ibnu Katsir berkata, “Allah Taala menjelaskan bahwa sarana terbaik sebagai penolong dalam memikul musibah adalah kesabaran dan shalat.”

    Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Hudzaefah bahwa jika Rasulullah saw tertimpa suatu perkara yang berat maka beliau melakukan shalat. (HR. Abu Dawud nomor 1319).

    Keempat: Hidup memiliki dua sisi, nikmat atau musibah, kebahagiaan atau kesedihan. Dua sisi yang menuntut sikap berbeda, syukur atau sabar. Akan tetapi persoalannya tidak mudah, karena manusia memiliki kecenderungan kufur pada saat meraih nikmat dan berkeluh kesah pada saat meraih musibah, dan inilah yang terjadi pada manusia secara umum, kecuali orang-orang yang shalat. Orang yang shalat akan mampu menyeimbangkan sikap pada kedua keadaan hidup tersebut.

    Firman Allah, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.” (Al-Ma’arij: 19-23).

    Ibnu Katsir berkata, “Kemudian Allah berfirman, ‘Kecuali orang-orang yang shalat’ yakni manusia dari sisi bahwa dia memiliki sifat-sifat tercela kecuali orang yang dijaga, diberi taufik dan ditunjukkan oleh Allah kepada kebaikan yang dimudahkan sebab-sebabnya olehNya dan mereka adalah orang-orang shalat.”

    Sebagian dari hikmah yang penulis sebutkan di atas cukup untuk membuktikan bahwa shalat adalah ibadah mulia lagi agung di mana kita membutuhkannya dan bukan ia yang membutuhkan kita, dari sini kita mendapatkan ayat-ayat al-Qur`an menetapkan bahwa perkara shalat ini merupakan salah satu wasiat Allah kepada nabi-nabi dan wasiat nabi-nabi kepada umatnya.

    Allah berfirman tentang Isa putra Maryam, “Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan dia mewasiatkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” (Maryam: 31).

    Allah berfirman tentang Musa, “Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (Thaha: 14).

    Allah berfirman tentang Ismail, “Dan ia menyuruh ahlinya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.” (Maryam: 55).

    Allah berfirman tentang Ibrahim, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (Ibrahim: 40).

    Allah berfirman tentang Nabi Muhammad, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (Thaha: 132).Wallahu a’lam.

  10. Peningkatan Pemahaman dan Pengamalan Ajaran Islam

    Untuk meningkatkan pemahaman ajaran Islam secara sistematis dan praktis dalam kehidupan sehari-hari dapat diperoleh dari perkuliahan. Tekun mengikuti perkuliahan pendidikan agama Islam dapat menambah pemahaman akan Islam sendiri. Selain itu dapat pula langsung bertanya mengenai hal-hal yang tidak diketahui hukumnya dalam kehidupan sehari-hari kepada orang yang lebih memahami tentang ajaran islam. Membeli buku-buku islami dan sering membacanya sehingga menambah wawasan mengenai islam. Selalu memperaktikkan ilmu mengenai islam walaupun mungkin baru sedikit.

    Usaha lain yang dapat kita lakukan adalah dengan rajin mengikuti pengajian-pengajian keislaman di media seperti di televisi, koran dan lain sebagainya.

  11. Ibadah Haji

    Ibadah haji merupakan rukun islam yang terakhir. Sebagai muslim, tentu saja penulis sendiri berkeinginan atau bercita-cita untuk dapat naik haji. Mengunjungi baitullah, menjadi tamu Allah SWT. Penulis sebagai seorang muslimah, sangat ingin naik haji atau setidaknya umroh. Usaha penulis adalah dengan niat terlebih dahulu. Yang paling penting, pertama-tama adalah adanya niat yang kuat. Untuk saat ini, penulis sedang berusaha untuk mencari bekal demi hidup yang mapan, untuk mencari nafkah di kemudian hari. Jika telah memperoleh pekerjaan nanti, telah memperoleh penghasilan, penulis akan menyisihkan sebagian uang untuk ditabung demi cita-cita naik haji atau umroh. Semoga terlaksana. Amiiin.

1 Response to "Paper Agama Islam"

Assalamu’alaikum
Terima kasih yach sob, artikel ini sangat membantu saya dalam bahan referensi tugas Paper Agama Islam saya.

Ditunggu tulisan2 spektakuler lainnya :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Unggah, Bagikan, dan …

Hari ini tanggal …

April 2009
S S R K J S M
« Feb   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Blog Stats

  • 77,075 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 24 pengikut lainnya.

Suara Twitter:

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: