As@Fatur

Hilal dan Hisab

Posted on: 20 Agustus 2009

Ramadhan Tahun 2009 M telah ditetapkan (alhamdulillah sepakat oleh NU dan Muhammadiyah), yaitu jatuh tanggal 22 Agustus 2009. Bagaimanakah sebenarnya cara menetapkan tanggal 1 Ramadhan ini?

Di dunia Islam, dikenal dua cara dalam menentukan datangnya bulan baru, yaitu Rukyatul Hilal dan Hisab. Pembahasan mengenai Rukyatul Hilal dan Hisab menjadi begitu penting tatkala berhubungan dengan aktifitas ibadah, salah satunya ialah dalam rangka penetapan kapan bulan Ramadhan dimulai. Berikut ini adalah artikel hasil pencarian yang saya dapatkan. Semoga dapat menjelaskan mengenai Hilal dan Hisab berdasarkan.

RUKYATUL HILAL

Ramadhan tahun ini sepertinya tidak terjadi perbedaan antara Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama. Muhammadiyah mengumumkan bahwa tanggal 1 Ramadhan 1430 H bertepatan dengan hari Sabtu Pahing, tanggal 22 Agustus 2009. Demikian pula dengan NU. Sebagai orang beriman, kita sebaiknya tidak memastikan sesuatu yang belum terjadi. Walaupun menurut perhitungan diperkirakan bahwa 1 Ramadhan jatuh pada tanggal 22 Agustus 2009, sebelum saatnya tiba, sebaiknya jangan memastikan 100%. Walaupun dengan kemajuan ilmu Hisab yang sedemikian pesat sekarang ini, jatuhnya 1 Ramadhan bertahun-tahun kemudian pun dapat diperkirakan, namun pengumuman mengenai hal tersebut tidak tepat jika dikeluarkan sekarang.

Bagaimana cara menentukan permulaan Ramadhan 1430 H (dan juga tahun sebelum atau sesudahnya)? Rasulullah SAW bersabda: “Berpuasalah kamu karena melihat hilal (bulan) dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal) 30 hari.” (Bukhori : 1776). Nahdhatul Ulama (NU) mengambil pedoman dari hadits tersebut dengan menggunakan Rukyatul Hilal bil Fi’li (Melihat bulan secara langsung) sebagai metode penetapan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzul Hijjah. Hukum Rukyatul Hilal adalah fardhu Kifayah. Artinya, jika tak satupun dari umat Islam yang melakukannya, maka seluruh umat akan berdosa. Bila tertutup awan atau menurut Hisab hilal masih di bawah ufuk, NU tetap merukyat untuk kemudian mengambil keputusan dengan menggenapkan (istikmal) bulan berjalan menjadi 30 hari.

Hisab bagi NU hanya sebagai alat bantu, bukan sebagai penentu masuknya awal Bulan Qamariyah. Hilal dianggap terlihat dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut:

(1) Ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas horizon tidak kurang daripada 2° dan jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang daripada 3°. Atau

(2) Ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang daripada 8 jam selepas ijtimak/konjungsi berlaku.

Ketentuan ini berdasarkan Taqwim Standard Empat Negara Asean, yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) Di komunitas RHI, bahkan kriteria MABIMS ini belum pernah terbukti. Terakhir, hilal Sya’ban 1430 H adalah fenomenanya. Bahkan hilal muda Sya’ban 1430 H, tidak ada satu orangpun yang melaporkan melihatnya di dunia.

HISAB

Organisasi Islam Muhammadiyah dan Persatuan Islam (Persis) juga mengakui Rukyat sebagai awal penentu awal bulan Hijriyah. Namun, Muhammadiyah mulai tahun 1969 tidak lagi melakukan Rukyat dan memilih menggunakan Hisab, dengan alasan rukyatul hilal atau melihat hilal secara langsung adalah pekerjaan yang sangat sulit sementara Islam adalah agama yang tidak berpandangan sempit, maka hisab dapat digunakan sebagai penentu awal bulan Hijriyah.

Muhammadiyah tidak menggunakan Hisab sebagai penentu atau memperkirakan hilal mungkin dilihat atau tidak, akan tetapi dijadikan dasar penetapan awal bulan Hijriyah sekaligus jadi bukti bahwa bulan baru sudah masuk atau belum. Persatuan Islam (Persis), setelah tahun 2002 mengikuti Muhammadiyah menggunakan Kriteria Wujudul Hilal.

Sebenarnya, kapankah waktu Awal Ramadhan Tahun 1430H?

Hari Kamis 20 Agustus 2009, waktu untuk melakukan penentuan Awal Ramadhan 1430 H adalah saat Matahari terbenam, setelah terjadi Konjungsi/Ijtima’/Matahari dan Bulan segaris astronomis. Agar lebih mudah untuk dipahami, maka konjugsi adalah keadaan matahari dan bulan persis saat terjadi Gerhana Matahari Total/Cincin/Sebagian, karena posisi Matahari dan Bulan segaris dan selintang.

Pada tanggal 20 Agustus 2009, MUHAMMADIYAH dan PERSIS, serta penganut kriteria wujudul hilal (Hilal telah ada) telah menetapkan berdasarkan Hisab (Perhitungan ilmu Falak-Astronomi), dimana Hilal sebagai penentu awal Ramadhan 1430 H adalah mustahil dilihat pada saat harus dilakukan Rukyah. Keadaan seperti inilah yang dimaksudkan sebagai Ghubiya (terhalang) dalam hadits di atas. Kesimpulannya, Jika Hilal itu terhalang, maka Jumlah bilangan dari bulan Sya’ban digenapkan. Karena saat dan waktu rukyah adalah tanggal 29 Sya’ban 1430 H, maka genapnya menjadi 29+1 = 30. Jadi esok hari adalah masih tanggal 30 Sya’ban 1430H.

Pada tangal 20 Agustus 2009, NU dan Depag, MUI, serta penganut kriteria Maujudul Hilal (Hilal terlihat ada) akan melakukan pengamatan (Rukyah) Hilal untuk memastikan hasil Hisab (Perhitungan ilmu Falak-Astronomi), dimana Hilal sebagai penentu awal Ramadhan 1430 H adalah memang benar bahwa mustahil dilihat pada saat harus di-rukyah. Bila Hilal terlihat, maka esoknya sudah memasuki 1 Ramadhan 1430 H. (Tetapi hal ini belum pernah terjadi. Perhitungan Hisab adalah sesuai dengan fakta di alam (Sunnatuloh yang insyaallah tak berubah). Hingga saat ini, jika secara Hisab Hilal Mustahila dilihat, maka hasil Rukyah juga insya Alloh Mustahil terlihat. Kondisi inilah yang dikatakan juga sebagai makna dari Ghubbiya (terhalang) dalam hadits tersebut. Keadaan ini menyebabkan adanya Istikmal (digenapkan) jumlah bilangan hari dalam bulan Sya’ban. Karena waktu rukyah tanggal 29 Sya’ban 1430 H, maka menjadi 29+1 = 30. Jadi esok hari masih tanggal 30 Sya’ban 1430 H.

Pada hari Jum’at, 21 Agustus 2009, MUHAMMADIYAH, PERSIS dan para penganut kriteria Wujudul Hilal, sudah tinggal menunggu esoknya untuk memulai Awal Ramadhan 1430 H. Sedangkan NU, dan para penganut kriteria Maujudul Hilal (Hilal terlihat-ada), bisa menunggu seperti penganut kriteria Wujudul Hilal, atau tetap melakukan Rukyah Hilal, sekedar untuk menambah wawasan. Sebab Syar’i nya sudah Kamis, sehari sebelumnya. Walaupun pada hari Jum’at, 21 Agustus 2009 kembali terjadi hilal gagal dilihat, namun jumlah hari bulan Sya’ban 1430 H tetap 30 hari. Oleh karena itu, keesokan harinya pasti sudah 1 Ramadhan 1430 H. Apalagi jika hilal terlihat, maka lebih mantap dan yakin serta ada kepuasan dalam wawasan, sekaligus menikmati dan mengagungkan ciptaan Allah SWT.

MANAKAH YANG MU’TABAR?

Kesulitan rukyah hilal mendasari Muhammadiyah mengambil keputusan untuk tidak melakukan Rukyah lagi. Tetapi Muhammadiyah sebenarnya masih mengakui adanya dan muktabarnya Rukyah, bila terjadi perselisihan dengan Hisab.

Menilik hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Berpuasalah karena melihat tanggal dan berbukalah karena melihatnya. Maka bilamana tidak terlihat olehmu, maka sempurnakan bilangan bulan sya’ban tiga puluh hari.”

“Dialah yang membuat matahari bersinar dan bulan bercahaya serta menentukan gugus manazil-manazilnya agar kamu sekalian mengerti bilangan tahun dan hisab”. (Al-Quran surat Yunus ayat 5).

Apabila ahli hisab menetapkan bahwa bulan belum tampak (tanggal) atau sudah wujud tetapi tidak kelihatan, padahal kenyataan ada orang yang melihat pada malam itu juga; manakah yang mu’tabar. Majlis Tarjih memutuskan bahwa ru’yahlah yang mu’tabar. Menilik hadits dari Abu Hurairah r.a. yang berkata bahwa Rasulullah bersabda:”Berpuasalah karena kamu melihat tanggal dan berbukalah (berlebaranlah) karena kamu melihat tanggal. Bila kamu tertutup oleh mendung, maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban 30 hari.”(Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Di lapangan sering muncul kata-kata, “saya sudah 30 kali rukyah, tapi belum pernah bisa melihat”. dan semacamnya. Apakah benar Rukyah hilal itu sulit.? Saya mengatakan bahwa Rukyah Hilal, mudah; tetapi juga sulit. Tergantung kita memahami persalannya atau tidak. Dan Rukyah Hilal tidak sekedar untuk menentukan awal Ramadhan, Syawwal dan Dzul Hijjah. Tetapi saya mencoba melakukan 2 kali sebulan, adalah untuk “ime keeping” Dan saya merasa selama Rukyah Hilal itu dipandu dengan HISAB yang benar, maka yang terjadi adalah sesuatu yang menyenangkan dan mudah. Selama 3 kali saya Rukyah, ternyata saya bisa melihat hilal minimal sekali. Saya melakukan kegiatan Rukyah sejak 2005 setelah bergabung dengan ICOP. Dan saya aktif memberikan laporan baik ke RHI, ICOP juga ke MCW.

CONTOH APLIKASI HISAB-RUKYAT MENENTUKAN AWAL RAMADHAN 1430 H:

Hari Pertama Ijtimak:

Lokasi/Kota = Sukoharjo (-7o 44″, 110o 47″), Tgl 29 Sya’ban 1430 H = 20 Agustus 2009.

Hari Ijtimak = Kamis, 20 Agustus 2009 jam 17:02 WIB.

Sunset pada 17:37 WIB, pada Azimuth=282o 19″.

Moonset pada 17:31 WIB, Azimuth=279o 51″, Moon alt= -2o 3″.

Kesimpulan : HILAL MUSTAHIL TERLIHAT

Sukoharjo dan Indonesia, ada pada Warna Merah, artinya MUSTAHIL MELIHAT HILAL Peta Visibilitas Hilal 1 Ramadhan 1430 H Peluang Rukyah nya: Hilal Negatif, Hilal berada di bawah ufuk, alias negatif,

Hari Kedua Ijtimak:

Lokasi/Kota = Sukoharjo (-7o 44″ , 110o 47″), Tgl 30 Sya’ban 1430 H = 21 Agustus 2009

Hari Ijtimak = Kamis, 20 Agustus 2009 jam 17:02 WIB

Sunset = 17:37 WIB, lokasi pada Azimuth=281o 59″

Moonset= 18:27 WIB, Azimuth=275o 18″, Moon alt= 11o 8″

Kesimpulan : HILAL MUDAH TERLIHAT

Sukoharjo dan Indonesia, ada pada Warna Hijau, artinya MUDAH SEKALI MELIHAT HILAL Peta Visibiltas Hilal Ramadhan 1430 H – hari 2, Peluang melihat Hilal : Hilal Mudah dilihat, asal cerah, Hilal sangat mudah dilihat.

Catatan Kaki: Sebagian muslim di Indonesia lewat organisasi-organisasi tertentu yang mengambil jalan pintas merujuk kepada negara Arab Saudi atau terlihatnya hilal di negara lain dalam penentuan awal bulan Hijriyah termasuk penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha. Cara ini dinamakan Rukyat Global. Penganut kriteria ini berdasarkan pada hadist yang menyatakan, jika satu penduduk negeri melihat bulan, hendaklah mereka semua berpuasa meski yang lain mungkin belum melihatnya. Hadits ini menurut Fatwa MUI, adalah bisa berlaku manakala Daulah Islamiyah Global telah terbentuk. Bila ini belum, maka mengikuti pemerintah masing-masing dulu saja.

Resource: http://oaseadwan.info/pabo/2009/08/19/menentukan-awal-bulan-ramadhan-1430-hijriyah

3 Tanggapan to "Hilal dan Hisab"

bagaimana dengan waktu shala? bukankah itu menggunakan hisab? apakah kita mesti selalu melihat bulan ketika hendak shalat? bukankah itu menggunakan teknologi? sebagaimana muhammadiyah menentukan 1 ramadhan atau 1 syawal? terima kasih, jazakumullah.

Waktu solat dasarnya bukan liat bulan, tapi liat matahari (bayangan matahari ) hadisnya ada juga kok. Semoga bermanfaat.

aku minta, buat perbandingan paper-ku….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Unggah, Bagikan, dan …

Hari ini tanggal …

Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul   Feb »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Blog Stats

  • 74,727 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 21 pengikut lainnya.

Suara Twitter:

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: