Tag

Hari ini, 2 Mei 2008, adalah peringatan hari terpenting bagi dunia pendidikan di Indonesia. Hari lahirnya Ki Hajar Dewantoro. Tulisan berikut ini disunting dari tulisan Prof. Dr Ki Supriyoko, MPd, pamong tamansiswa, mantan sekretaris komisi nasional pendidikan, anggota badan pertimbangan pendidikan nasional yang dimuat di Suara Merdeka, Jumat, 2 Mei 2008.

Beliau menulis tentang Nilai-nilai dasar pendidikan yang menarik bagi penulis. Nilai-nilai dasar tersebut terdiir dari:
1. Kemerdekaan
2. Kebangsaan
3. Keseimbangan
4. Kebudayaan
5. Kemandirian
6. Kemanusiaan, dan
7. Kekeluargaan

Pertama adalah Kemerdekaan. Pendidikan, menurut beliau, harus didasarkan pada nilai-nilai kemerdakaan yang azasi. Sehingga pengembangan ide, pemikiran, dan kreativitas tidak dikalahkan oleh hal-hal pragmatis.

Kedua adalah kebangsaan. Hal ini berdasarkan pada nilai-nilai kebangsaan yang hakiki. Perbedaan agama, etnis, budaya, adat, kebiasaan, status sosial, eknomi, dan lain-lain hendaknya dapat dijadikan kerangka pengembangan sistem. Penyelenggara pendidikan tidak boleh membedakan agama, etnis, budaya, adat, kebiasaan, status sosial, ekonomi dan sebagainya.

Ketiga adalah keseimbangan. Pendidikan harus mampu memberikan keseimbangan perkembangan kecerdasan dan kepribadian anak didik. Pendidikan yang hanya mengedepankan kecerdasan saja akan menghasilkan anak yang jahat. Sedangkan yang hanya mengedepankan bertumbuhnya kepribadian semata hanya akan menghasilkan manusia tidak cakap.

Keempat, kebudayaan. Kebudayaan adalah ruh pendidikan nasional. Perkembangan pendidikan harus senantiasa disesuaikan dengan kebudayaan bangsa kita. Bukan berarti harus menolak kebudayaan manca yang datang. Namun perbaduannya harus senantiasa manghasilkan budaya yang lebih konstruktif.

Kelima, Kemandirian. Ini menjadi dasar segala bentuk usaha dalam mencapai kemajuan hidup. Tanpa kemandirian, usaha pencapaian kemajuan hidup sulit membuahkan hasil optimal.

Keenam, Kemanusiana. Pendidikan harus diselenggarakan di atas nilai kemanusiaan. Nilai-nilai itu seperti kejujuran, keadilan, kesantunan, dan sejenisnya. Setiap anak didik hendaknya berbudi pekerti luhur sebagai modal utama mengembangkan dirinya di masyarakat.

Ketujuh, Kekeluargaan. Keluarga harmonis mempunyai nilai ideal untuk menyelenggarakan pendidikan nasional. Pendidikan ditandai dengan keakraban hubungan pamong dan siswa sebagaimana akrabnya hubungan keluarga.

Tulisan di atas amat menarik bagi saya karena menekankan pada kokohnya pondasi pendidikan bangsa kita. Apabila pondasi pendidikan telah kokoh, maka kita sebagai masyarakat akan dengan mudah melaksanakan segala rencana demi memajukan pendidikan di bangsa ini. Kita tidak akan melulu bersitegang mengenai hal-hal yang bersifat teknis seperti Ujian Nasional. Pemerintah juga dapat menentukan kebijakan yang sesuai dengan situasi dan kondisi pendidikan yang memerlukan perhatian. Kebijakan yang benar tentu akan menambah wibawa pemerintah di mata rakyatnya sehingga pemerintah kembali dianggap sebagai orang tua bagi rakyat. Yang seluruh aturannya memang disikapi bertujuan demi kebaikan rakyat.

Perseteruan mengenai Ujian Nasional dapat disikapi dengan lebih bijaksana. Karenan toh setiap pihak memiliki tujuan yang sama yaitu meningkatkan kualitas pendidikan bangsa. Hanya saja perlu penyikapan yang tepat dan bijak terkait dengan perbedaan yang ada di setiap daerah tempat pendidikan berlangsung. Kita tidak perlu membuang energi demi hal yang kurang bermanfaat. Karena segala hal ada hikmah dibalik kejadian, sama halnya mengenai lulus dan tidaknya seorang siswa. Semoga masing-masing dari kita mampu mengambil hikmah atas setiap kejadian yang kita alami, khususnya peringatan hari pendiikan nasional kali ini.

Selesai: 2 May 2008 10:19:19