Ilmu, Pendidikan, Mahalnya pendidikan

Pendidikan

Pendidikan merupakan hak setiap manusia. Tidak ada satu orang pun yang lebih berhak atas pendidikan daripada orang lain. Oleh karena itu, esensi pentingnya pendidikan harus dirasakan oleh setiap orang. Mulai dari dia lahir hingga mendekati ajal. Baik dia kaya maupun miskin. Pejabat ataupun orang melarat. Pendidikan merupakan hak setiap manusia. Setiap makhluk yang bernama manusia.

Namun pada kenyataannya tidak lah demikian. Hal yang paling nyata adala pengalaman penulis sendiri. Kecintaan akan ilmu merupakan sebuah nilai plus yang jarang dimiliki oleh seseorang. Rasa inilah yang mendorong penulis untuk terus menuntut ilmu. Latar belakang penulis bukanlah berasal dari keluarga berpendidikan tinggi. Ayah merupakan lulusan pesantren yang tidak sekolah. Ibu pernah belajarĀ  baca tulis di sekolah dasar namun tidak tuntas. Memang generasi jaman dulu indonesia, terutama di pedesaan kurang memperhatikan masalah pendidikan. Kebanyakan dari mereka, memiliki orang tua yang lebih suka mencarikan jodok bagi anak-anaknya daripada menyekolahkan mereka. Tidak jarang, mereka keluar dari bangku pendidikan dasar karena telah dilamar oleh seseorang.

Namun demikian, pemikiran seperti tersebut di atas lambat laun berubah. Hal ini karena perkembangan jaman yang menuntut setiap orang berpendidikan agar dapat memenangkan persaingan hidup. Jika dahulu, orang pedesaan telah merasa cukup karena dapat mencukupi kehidupan sehari-hari mereka dengan bercocok tanam, tanpa memiliki impian apapun selain “yang penting hari ini makan”. Maka kini, generasi generasi selanjutnya yang telah melihat “dunia luar” selain kampung kelahiran mereka, mulai memiliki “mimpi” yang sama sekali beda, lain dan ekstreem (jika boleh dibilang demikian) dibandingkan orang tua mereka.

Pendidikan mendadak menjadi begitu penting, karena bagi mereka yang tidak mempunyai pendidikan (dan keterampilan), tidak akan mampu mencapai impian dan “mimpi” mereka. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi seperti radio dan televisi memberikan informasi yang sangat banyak. INformasi mengenai dunia yang sama sekali lain. Dunia “peri” yang ingin mereka capai. Dan untuk dapat mencapainya, mereka memerlukan alat berupa ilmu.

Kemudahan dan Kesulitan

Bagi mereka dari keluarga berlebihan harga, hal tersbut bukan menjadi masalah. Tinggal minta kepada kedua orang tua, maka jalan menuju impian mereka akan mulus, bisa dibilang sama sekali tanpa hambatan. Namun tidak demikian bagi mereka yang hidup pas-pasan. Uang yang dimiliki pas untuk makan hari ini, untuk hari esok, entah bagaimana….

Maka sangatlah disayangkan, khususnya penulis menyayangkan, apabila ada generasi muda yang menyianyiakan kesempatan untuk menuntut ilmunya dikala keluarganya mampu. Penulis sendiri, mengalami bagaimana sulitnya mencari ilmu. Ketika SD, berangkat sekolah tidak kenal kata uang saku. Karena memang dekat dengan SD Inpress. Berangkat tanpa bersepatu merupakan hal yang sudah biasa karena memang dulu sepatu belum merupakan sarat utama, yang terpenting adalah orang tua mau menyekolahkan anak. Disamping itu, tidak jarang, bukan hal yang tidak mungkin, dan sering terjadi, apabila pihak sekolah menekan orang tua agar anak harus bersepatu, maka anak akan ditarik untuk membantu orang tua di sawah atau ladang atau kebun.

Jika melihat kenyataan tersebut, maka sangatlah tidak pantas apabila masih ada anak-anak jaman sekarang yang tidak mau sekolah hanya karena orang tua mereka tidak mampu membelikan Ponsel.

Keberadaan beasiswa sangatlah membantu. Penulis sendiri, sejak SMP hingga SLTA sekolah dengan bantuan beasiswa. Memang prosesnya harus menunjukkan bukti kelurahan mengenai ketidak mampuan keluarga. Namun ada juga jalur khusus siswa berprestasi. Setidaknya keberadaan beasiswa merupakan pertolongan nyata bagi generasi muda dari keluarga miskin. Semoga pihak-pihak yang mampu, terutama orang kaya di Indonesia bersedia menyisihkan hartanya untuk beasiswa anak-anak tidak mampu.

Pendidikan Mahal

Penulis merasa, pendidikan di Indonesia sekarang ini amat sangat mahal. Tidak realistis dan telah kehilangan makna pendidikan sesungguhnya. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat mengenyam pendidikan hingga sarjana. Orang-orang yang menjadi pejabat, tuan tanah, saudagar, pemilik perusahaan dan pegawai negeri. Hampir identik dengan keadaan bangsa di waktu penjajahan. Dimana pendidikan hanya untuk keturunan bangsawan dan pemerintah.

Anak-anak orang “biasa” (biasa susah) seperti penulis, amat sangat susah untuk dapat mengenyam pendidikan tinggi yang layak. Bayangkan saja, sekarang ini, untuk masuk SMA saja orang tua harus dibebani dengan berbagai macam uang administrasi. Yang paling memberatkan biasanya adalah uang gedung. SPP saja sekarang sudah mencapai bilangan ratusan ribu. Apalagi di perguruan tinggi. Untuk dapat mengenyam pendidikan tinggi, setidaknya orang tua harus menyiapkan dana minimal 1 juta untuk tiap semester, belum lagi uang pangkal, uang gedung, uang praktek dan uang-uang lainnya.

Tampaknya pemerintah belum benar-benar memperhatikan penuh masalah pendidikan ini. Bagaimana bangsa Indonesia dapat maju mengejar ketertinggalan dari bangsa lain jika pemerintah masih mengesampingkan masalah pedidikan? semoga menjadi perengungan kita, mohon maaf apabila perenungan ini salah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s